Belajar Menjadi Perempuan

June 7, 2016 § Leave a comment

Saya adalah perempuan yang beruntung. Saya sehat, saya berpendidikan, saya dibesarkan dalam keluarga yang takut akan Tuhan dan penuh kasih sayang, dan saya punya banyak panutan hidup. Salah satunya Oma.

Saya memang tidak pernah tinggal bersama Oma dalam waktu yang cukup lama, karena kami terpaut jarak. Saya lahir dan besar di Jakarta, sempat pindah ke Bandung dan Korea, sementara Oma menikmati hari-harinya di Manado. Tentunya sesekali Oma pesiar ke luar kota dan luar negeri, tapi tetap saja ujung-ujungnya Oma akan kembali ke “markasnya” di Manado. Meskipun demikian, Oma mengajarkan banyak hal kepada saya, terutama sebagai perempuan.

Pelajaran pertama: perempuan harus selalu waspada.

Belasan tahun lalu, saya masih kecil dan kami sekeluarga tinggal di Bandung. Suatu hari, saya bermain Play Station di rumah bersama abang saya dan teman-temannya. Saya asyik bercengkerama dengan mereka, tertawa riang gembira, tanpa menyadari saya satu-satunya anak perempuan di ruangan itu. Oma yang kebetulan sedang berlibur di rumah kami kemudian melihat hal itu dan memanggil saya keluar. “Sali! Jangan ketawa-ketiwi nempel sana-sini dengan laki-laki semua! Anak perempuan jangan mau ditepuk ditoyor begitu!” omel Oma.

Ketika itu saya diam saja. Saya tidak mengerti, dan dalam hati saya menggerutu dan bingung. Rasanya tadi saya cuma main PS? Apa yang salah dengan tertawa terbahak-bahak sana sini? Jangan-jangan saya dimarahi karena saya kalah main PS (seperti biasanya)?

Bertahun-tahun kemudian baru saya mengerti moral pertama dari adegan di atas, yakni bahwa perempuan tidak boleh membiarkan dirinya tanpa perlindungan. Bahkan ketika saya pikir semua aman, ketika saya pikir saya sedang bermain, bisa saja keadaan tidak seindah yang saya kira. Okesip. Terima kasih, Oma!

Pelajaran kedua: perempuan harus cerdas.

Sedikit informasi, hobi Oma adalah belajar. Dari zaman Indonesia masih dijajah, hingga Indonesia sudah merdeka, hingga Indonesia dijajah kembali oleh korupsi dan teman-temannya, Oma terus belajar. Oma pernah belajar di sekolah Jepang, sekolah Belanda, dan pernah dapat beasiswa ke Australia dan Amerika. Di usia 80-an Oma berhasil menamatkan sekolah S3 sehingga nama Oma sekarang menjadi luar biasa panjang dengan hiasan gelar aneka rupa.

Syukurnya, hobi belajar ini ditularkan kepada anak-anak dan cucu-cucu Oma, meskipun mungkin skalanya belum setinggi Oma. Oma memastikan kami semua bersekolah tinggi, dan Oma selalu menyediakan waktu untuk datang ke acara sekolah atau wisuda kami. Februari 2012, Oma berusia 82 tahun dan rela menembus kejamnya musim dingin di Korea Selatan demi menghadiri wisuda saya, cucu perempuan Oma satu-satunya. Betapa bangganya saya bisa mengenakan toga S1 dan resmi dinyatakan lulus dari program Computer Science, Kyungsung University, Busan, Korea Selatan dengan disaksikan oleh Oma. Pertanyaan pertama Oma begitu kami kembali ke hotel setelah seharian berjuang melawan dinginnya angin Busan adalah, “So, what’s next, Sali? Mo sekolah apa lagi ngana?”

Pertanyaan ini cukup unik dan fundamental. Buktinya, di tahun 2015 lalu ketika Oma sempat sakit dan mengalami penurunan daya ingat, pertanyaan Oma setiap kali melihat saya tetaplah satu, “Sali kapan wisuda?” Mungkin Oma lupa saya sudah lulus S1 dan bahkan dirinya pernah menghadiri wisuda saya. Namun saya sungguh bersyukur saya punya Oma yang ketika pikun otomatis pertanyaan yang dilontarkan adalah seputar sekolah, bukannya pertanyaan paling mainstream ‘kapan menikah’😀

Pelajaran nomor tiga: perempuan harus cantik.

Pernah dengar kabar burung yang mengatakan bahwa perempuan Manado itu cantik-cantik? Pernah dengan gosip perempuan Manado paling pintar bergaya? Well, itu gosip belaka sodara-sodarih!! Perempuan Manado cantik, pandai merias diri, suka menata rambut, gemar membeli baju, dan hobi mengoleksi sepatu baru. Ini bukan bicara tentang saya, karena saya akui saya hanya setengah Manadonya😀 Bukti nyatanya yahh Oma saya sendiri!

Saya kenal Oma sejak Oma sudah menjadi…. seorang Oma. Saya tidak pernah melihat langsung Oma ketika masih gadis rupanya seperti apa. Saya hanya berkesempatan melihat sosok Oma ketika muda lewat foto. Namun, bahkan di usia lanjutnya pun Oma selalu tampil menawan, tidak seperti oma-oma pada umumnya. Ini tentu saja mematahkan pandangan saya ketika masih kecil dulu, di mana sosok seorang nenek dalam buku pelajaran biasanya digambarkan dengan seorang perempuan tua renta memakai kain lusuh dan bertumpu pada tongkat reyot, sementara rambutnya putih dan digulung ke atas.

Oma dengan suksesnya membuyarkan khayalan masa kecil saya tersebut. Oma tidak pernah berambut putih; rambut Oma selalu dicat dan Oma punya koleksi wig satu lemari. Oma tidak memakai tongkat; Oma masih sanggup berjalan cepat mengelilingi lapangan dekat rumahnya di Manado. Oma memakai kain lusuh? Sama sekali tidak pernah! Baju Oma jauh lebih berwarna-warni dari saya, dan koleksi sepatu serta tas Oma lebih heboh dari remaja kebanyakan.

Suatu kali ketika Oma sedang sakit dan tinggal bersama keluarga kami di Jakarta, saya berkesempatan memandikan dan membantu Oma berpakaian. Tidak ada jadwal keluar rumah hari itu, karena badan Oma masih sangat lemah. Otomatis saya memilihkan sepotong daster nyaman untuk Oma, dan mengira tugas saya berhenti di sana karena toh Oma tidak ke mana-mana. Di luar dugaan, Oma memilih pakaian yang lebih rapi, dan meminta saya membantunya berdandan. Pensil alis segera diraut, bibir pucat pun berubah menjadi merah merona. Penuh keheranan, saya bertanya, “Oma mo pi mana so? Pe cantik skali berdandan…

Seakan pertanyaan saya adalah sesuatu yang luar biasa aneh, Oma menjawab juga dengan penuh keheranan, “Perempuan harus cantik! Biar nyanda mo ke mana-mana maar harus tetap cantik!”

Kalimat di atas saya terjemahkan ke dalam banyak arti. Cantik bisa jadi cantik mukanya, atau cantik hatinya. Cantik kelakuannya, cantik tutur bahasanya. Cantik hasil karyanya, cantik wawasannya. Cantik tanggung jawabnya, cantik juga rezekinya. AMIN!!

Selamat menyambut usia delapan puluh enam tahun, Oma sayang!

– Jakarta, menjelang 19 Juni 2016

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Belajar Menjadi Perempuan at Eavesdrop on Me.

meta

%d bloggers like this: