Tutup Satu Chapter

August 7, 2015 § Leave a comment

Butuh waktu 6 minggu sampai akhirnya saya menuliskan detik-detik terakhir saya meninggalkan Nanga Bungan!! Alasan heroiknya sih karena nggak sanggup, terlalu menyedihkan. Tapi alasan lebih jujurnya adalah karena ngga sempet hehehe sepulang kembali ke kehidupan nyata malah sibuk jalan-jalan lagi dan reunian sana sini.

Anyway ini beberapa penggalan kisah tanggal 21 dan 22 Juni 2015 yang lalu.

Ceritanya, malam terakhir saya meninggalkan desa Nanga Bungan, kami hepihepi di gedung sekolah. Saya sudah bilang sama semua anak dan semua orang tua murid, bahwa “pesta” terakhir saya harus dinikmati dan nggak boleh ada yang nangis!! Alhasil hari itu, Minggu tanggal 21 Juni 2015, semua orang ceria dan . Pagi harinya saya masih sempat bergereja untuk terakhir kalinya di desa, lalu siang para ibu-ibu sudah sibuk memasak nasi dan berbagai lauk-pauk. Anak-anak juga sudah mendapat titah merapikan bangku dan meja sekolah supaya ruangan itu muat untuk dipakai joget😀 Teman-teman pemuda hari itu ngga ngapa-ngapain lagi, karena sehari sebelumnya mereka sudah ramai-ramai ke hulu sungai mencari ikan untuk saya hahaha.. Rasanya lucu melihat semua orang gotong royong demi melepas kepergian ibu guru Sali. Saya berasa mau nikah, soalnya biasanya satu desa heboh kayak gini kalau ada acara nikahan adat aja :p

Prosesi ngebungkusin nasi pakai daun untuk acara perpisahan bu guru kece. Sambil ngegosip sambil lipet lipet. #byeBungan

A photo posted by Sangalian Jato (Sali) (@cutesalmon) on

Anyway ketika hari Minggu itu sudah semakin sore, seluruh warga desa mandi bersih dan siap menempati ruangan sekolah untuk “pesta” dengan Ibu Guru Sali. Acaranya sederhana, seingat saya cuma ada beberapa kata sambutan, penyerahan hadiah, lalu makan malam. Oh saya sempat didoakan juga oleh Pak Komite, dan tertawa ketika beliau mendoakan saya dapat jodoh baik hati dan seiman. Saya ingat teman saya menginjak kaki saya gara-gara saya beneran tertawa padahal lagi berdoa.

Lalu tentunya ada juga kata sambutan dari Bu Yanti, kepala sekolah sekaligus kakak kesayangan saya. Dia, tentu saja, menangis sambil memberi kata sambutan. Dia bilang dia pasti akan kehilangan saya karena mulai sekarang harus tidur sendiri lagi setelah setahun penuh satu kelambu dengan saya. Setelah Bu Yanti sambutan, gantian saya yang memberi kata sambutan, dan puji Tuhan saya sukses memberi kata-kata terakhir tanpa air mata! Nyaris sih, tapi yaaa segera diakhiri begitu mata berkaca-kaca.

Selepas makan malam, kami masuk ke puncak acara yaitu JOGET!! Heheheh. Seumur-umur nggak pernah suka lagu dangdut, tapi hidup 1 tahun di desa benerbener mengubah semuanya! Beberapa orang tua murid sempat menyumbangkan lagu buat saya, termasuk teman-teman pemuda dan tentunya anak-anak. Puncak acara ini lumayan heboh, karena semua orang bergerak. Tidak ada air mata yang mengalir, yang ada malah air keringat >.<

Ngga mau pulang, maunya digoyang. Kalimat ini diucapkan dari lubuk hati terdalam 💕 Ngga… mau… pulang…. #byeBungan #Punan

A video posted by Sangalian Jato (Sali) (@cutesalmon) on

Sampai akhirnya hari keramat itu pun datang. 22 Juni 2015. Hari terakhir saya menginjakkan kaki di Nanga Bungan. Pagi itu saya sibuk beres-beres untuk terakhir kalinya, lalu pamit sama keluarga-keluarga terdekat saya di sana. Mendadak jadi artis juga, karena semua orang pengen foto terakhir😦 Dan ketika waktu menunjukkan sekitar pukul 11 siang, akhirnya saya harus turun ke perahu dan menyusuri sungai Kapuas untuk terakhir kalinya….. Ngga usah ditanya muka saya bentuknya begimana, seinget saya di perahu pun saya masih sesenggukan. Haha.

Hingga detik ini, saya berasa sebagian hati saya ketinggalan di desa itu. Kalau kata keluarga besar Indonesia Mengajar sih, untuk mempercepat proses move on sebaiknya bersihkan komputer dari foto dan video masa lalu, juga kurangi bicara tentang desa dan daerah penempatan sama siapapun. Hahaha tapi itu susah banget dilakukaaan… ini tiap hari aja saya masih suka SMSan sama murid-murid yang kebetulan lagi ada di Putussibau.

Buhuuuuu…. suatu saat nanti saya akan kembali ke desa itu. Mungkin tunggu ada sinyal dulu :p Ada yang mau ikut? Boleh daftar dari sekarang, biar kita bisa patungan uang bensin sama sama. Hahah. Anyway ini video terakhir yang dibuatkan oleh officer Indonesia Mengajar untuk merangkum jejak kami selama satu tahun. Ngeliatnya kadang bikin seneng, kadang bikin terharu, tapi paling sering sih bikin kangen desa.

Yess satu tahun mengajar seumur hidup susah move on!!

ps: ga cuma meninggalkan desa, tapi pas meninggalkan Putussibau untuk beranjak ke Pontianak pun saya belepotan kayak balon air pecah saking sedihnya. Hahaha pokonya mau pulang ke Jakarta rasanya berat banget. Damn I love Kapuas Hulu!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Tutup Satu Chapter at Eavesdrop on Me.

meta

%d bloggers like this: