Cinta Monyet

June 13, 2015 § Leave a comment

14  Mei 2015

Satu hari, saya sedang mengajar Bahasa Indonesia di kelas 3. Topik kami hari itu adalah kalimat pendapat. Setelah menjelaskan definisi kata pendapat dan kegunaannya dalam percakapan sehari-hari, saya mengajak anak-anak membuat kalimat pendapat masing-masing. Untuk memudahkan mereka, saya melontarkan sebuah pertanyaan dan anak-anak tinggal menjawab dengan memulai kalimat mereka menggunakan kata-kata, “Menurut saya, ….”

Maka mulailah tanya-jawab kami siang itu.

“Amos, bagaimana pendapatmu tentang model rambut baru Isak?”

Menurut saya, rambut Isak jelek.’

(semua tertawa)

“Isak, bagaimana pendapatmu tentang cincin di jari-jari Amos?”

Menurut saya, cincin Amos juga jelek.’

(satu kelas tertawa lagi)

Flora, bagaimana pendapatmu tentang bajunya Pian?”

‘Menurut saya, baju Pian sangatlah kotor.’

(satu kelas kembali tertawa)

“Pian, bagaimana pendapatmu tentang suara Flora?”

Menurut saya, suara Flora membuat telinga sakit.’

(lagi-lagi mereka tertawa, sambil mulai menepuk-nepuk meja karena ingin membalas)

Merasa kelas terlalu ricuh dan fokusnya berbelok menjadi ajang saling mengejek, saya pun melontarkan sebuah pertanyaan terakhir dengan harapan anak-anak tertawa ceria kemudian kelas pun selesai.

“Titus, bagaimana pendapatmu tentang wajah Ruth?”

Saya tahu jawabannya, karena sudah sejak lama Titus sering digoda-godai oleh teman-teman sekelasnya. Saya juga tahu bahwa murid-murid yang lain pun pasti menganggap pertanyaan ini retorik. Kami semua tahu bahwa Ruth cantik. Namun satu hal yang saya tidak tahu, yakni bahwa murid-murid saya ternyata punya keberanian lebih daripada yang saya pikirkan. Atau setidaknya lebih daripada yang saya alami dulu :p

Karena ketika saya melontarkan pertanyaan iseng tersebut tanpa mengharapkan jawaban serius dan saya pun sudah siap dengan kalimat, “Oke mari istirahat”, tiba-tiba anak laki-laki itu berkata dengan suara lantang,

Jak moeh Bu Guru…” (tunggu sebentar Bu Guru)

(kemudian menundukkan kepala dan membenamkan wajahnya dalam tangannya sendiri)

(dan berteriak)

“MENURUT SAYA, WAJAH RUTH SANGATLAH CANTIK.”

Maka meledaklah kelas kami, disusul dengan kelas sebelah, dan kelas sebelahnya lagi. Maklum, ruang-ruang kelas di sekolah kami hanya disekat papan kayu sehingga pembicaraan di ruangan sebelah dapat terdengar jelas dari mana saja. Saya sendiri tidak bisa berhenti tertawa sambil mengagumi keberanian kedua anak tersebut. Yang perempuan tetap cool tanpa merasa tersanjung maupun terganggu, sementara yang laki-laki luar biasa percaya diri. Sambil terus meneriakkan CIEEE CIEEEE ke arah mereka berdua, anak-anak lalu meninggalkan kelas untuk istirahat.

Sementara saya kembali ke bangku saya dan tersenyum melihat mereka semua. Kelas tiga SD? Naksir-naksiran? Sepertinya hal yang wajar. Saya dulu juga pertama kali naksir anak laki-laki ketika kelas 3 SD ,walaupun rasa itu memang tidak bertahan lama karena saya mendadak ilfeel  begitu mengetahui sang kakak kelas dihukum di luar karena nilai matematikanya 3. Tapi saya masih ingat jelas masa-masa itu. Masa-masa di mana rasa suka terasa sangat tulus; masa-masa di mana kekhawatiran terbesar adalah lupa mengerjakan PR; masa-masa di mana satu-satunya tanggung jawab adalah merapikan tempat tidur; masa-masa di mana hadiah ulang tahun terindah adalah tempat pensil baru. Masa-masa di mana hidup terasa jauh lebih sederhana, masa-masa cinta monyet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Cinta Monyet at Eavesdrop on Me.

meta

%d bloggers like this: