Bungan Story, teruntuk kamu Bu Guru!

October 6, 2014 § 2 Comments

Tulisan ini adalah milik Rifki Furqan, yang diambil dari sini.

Isinya terlalu manis dan mengharukan, jadi saya post kembali di sini🙂

Begitulah judul dari sebuah video kreasi saudara sepenugasanku. Ternyata, aku pun bisa rindu. Ya, serindu itu!

Sudah sejak weekend lalu aku teringat-ingat bagaimana Hulu. Apa kabarnya ya saudara sebangsaku di desa paling Hulu itu? Tak terasa sudah lebih dari dua bulan aku meninggalkan kampung halamanku itu. Dulu, ketika tiba di Jakarta dan bertemu dengan mereka-mereka, teman seangkatan, aku memasang janji diam-diam dalam hati untuk baru akan mengenang kisah hidup penuh makna ini paling tidak tiga bulan lagi. Dan ternyata kesombongan diri ini terus diuji hingga aku tak tahan lagi untuk mengaku sudah memasuki tahap sangat rindu ini.

Ini tentang korelasi antara memori dan masa transisi yang berjalan terbuka antara kita berdua. Kita saudara wahai Bu Guru, sejak awal dulu smsmu masuk dan terbaca ketika aku masih di perahu setelah empat jam turun dari hulu. Aku tak terlalu perduli awalnya siapa pun yang akan menggantikanku. Dan ternyata ketika kita berdiskusi cukup lama ketika aku bersinyal di kota, aku yakin kamu, yang sudah luar biasa, akan semakin jauh legawa, dewasa dan tentu lebih luar biasa dikemudian harinya.

Aku bersaksi bahwa kamu punya kapasitas untuk menyelesaikan tugas dengan gilang gemilang jauh dari tiga laki-laki sebelumnya. Kamu adalah pemberi beda. Tidak pernah ada sebelumnya Bu Guru yang dikirim ke desa paling hulu, dan itulah mengapa aku menyebut sejak mula bahwa kamu beruntung dan semoga terus berbahagia.

Ingat ini Bu Guru, ketika nanti di desa kamu sempat merasa putus asa, artinya alam sedang bekerja untuk membuatmu lebih luar biasa. Ketika kamu bingung karena tidak ada kata-kata yang dapat ditukar lewat pulsa, artinya pengalaman itu akan kamu kenang sebagai masa yang paling menguatkan perasaan diri juga logika. Ketika nanti apapun masalah dengan sekolah atau warga yang datang tanpa kamu bisa diskusikan bersama, simpan dan cerna baik-baik lewat tulisan atau apapun ragam kenangan lainnya.

Maka nanti, ketika kamu selesai dan meninggalkan Ketemenggungan Dayak Punan Hoovongan, mungkin rasa rindu seperti inilah yang akan terus menguatkan. Tak hanya menguatkan dengan ragam pengalaman mental, fisik dan spiritual tinggal di tengah hutan, tapi juga menguatkan rencana bintang gemintang kamu di masa depan.

Bu Guru, terima kasih bijaksana atas video kreasinya yang sukses membuat Pak Guru paling arogan di Bungan ini mengaku rindu. Jika nanti pertengahan kamu bertugas kamu pulang untuk sementara, kita harus bertemu karena aku akan menjamu tamu dari Hulu sambil kita akan tertawa-tawa membahas Bungan Jaya.

Semoga sehat selalu di Hulu ya Bu Guru! Aku tau bagaimana susahnya ternyata mengelola rindu pada seorang sahabat/saudara yang daerah penugasannya hanya bisa diakses lewat surat yang dibungkus kantong plastik dan dititipkan sebisanya. Jadi, tetaplah semangat jika naik ke Hulu dan turunlah ketika hati dan mimpimu berkata seperti itu. Kami akan selalu berdo’a agar Bu Guru dalam lindungan Tuhan yang Maha Kuasa selama bertugas disana, mengajar dan belajar di desa yang punya SD paling akhir di aliran Kapuas Hulu.

Depok, 09.09.14. 23.11 WIB. *setelah berulang-ulang kali mengenang Nanga Bungan

Pak Guru sok mantap!!Pak Guru sok mantap!!

Makasih banyak ya Pak Guru, saya memang lagi membutuhkan ini…

Tagged: ,

§ 2 Responses to Bungan Story, teruntuk kamu Bu Guru!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Bungan Story, teruntuk kamu Bu Guru! at Eavesdrop on Me.

meta

%d bloggers like this: