This House Is On Fire

January 18, 2013 § Leave a comment

Di saat orang-orang heboh kebanjiran, tetangga saya heboh kebakaran. Kejadiannya pagi ini, Jumat 18 Januari 2013 sekitar pukul 3 pagi. Kami sekeluarga lagi tidur dan mimpi kami lagi klimaks-klimaksnya, ketika mendadak mbak Irna ketok ketok kamar mama saya, “Bu.. Bu… bangun Bu.. rumah sebelah kebakaran.”

Emang dasar the power of kata “kebakaran”, saya yang biasanya kalo tidur berubah jadi batang pohon alias ga denger apa apa pun ikutan kebangun dan langsung loncat dari kasur saya. Keluar kamar, ibu saya dengan panik bilang, ‘Sali Passah bangun ayo semua stand by di mobil.’

Tanpa tahu apa bagaimana mengapa, saya menyambar satu tas tangan saya berisi HP, dompet, kacamata, dll lalu lari ke belakang untuk ngambil kunci mobil. Dari dalam rumah saya bisa denger orang-orang ribut teriak-teriak di sekeliling rumah kami dan saya cuma bisa dag dig dug der aja karena saya masih belum liat sendiri apinya seperti apa.

Berhubung pas bangunin kami semua si mbak bilangnya “rumah sebelah kebakaran”, ofkors satu rumah kami panik. Gile aje! Rumah di kompleks kami itu modelnya rumah kopel, alias sepasang dempet dempetan gitu. Jadi apa yang terjadi di rumah sebelah ofkors bakal dengan cepet merembet ke rumah kami juga. Buat yang nggak tau rumah kopel itu apa, ini saya cariin gambarnya di google:

Rumah Kopel


(Foto diambil dari aidiaproperti.com)

Andaikan rumah saya itu yang paling kiri atas, dan yang kebakaran adalah sampingnya alias pasangan rumah saya, tentu saja saya bisa ikutan nangis liatnya. Tapi syukurnya yang kebakaran adalah 3 rumah samping saya, atau kalau diandaikan di gambar di atas adalah rumah paling kanan. Di antara kami ada selisih 2 rumah lagi, yang secara jarak sebenernya agak sedikit jauh (beberapa meter lah) tapi kalau dalam keadaan panik mendadak api keliatan seakan bisa pindah dalam hitungan detik (which is probably true yah in some cases kalo memang media penghantarnya klop banget sama si api).

Rumah
(Rumah terbakar di kejauhan, heroic daddy berambut putih mencoba mendekat ke TKP)

Di satu jam pertama, mobil pemadam kebakaran belum juga dateng. Para penghuni rumah sekeliling kami udah sibuk mindahin mobil dan siap siap menyelamatkan diri masing-masing, sementara penghuni rumah yang kebakaran itu udah nangis nangis di dalam mobil mereka yang masih bisa selamat dan diparkir persis di depan rumah mereka yang lagi dilahap api. Ayah saya sukses mindahin mobil kami ke jarak yang lebih jauh, Ibu saya sukses menyelamatkan beberapa barang yang menurut dia berharga, Mbak Irna dan saya sukses matiin sekring listrik dan nyabut nyabutin kabel di rumah, dan kakak saya sukses ngumpulin dan ngandangin kucing kucing kami. Semua siap dimasukin ke mobil kalau memang petugas pemadam nggak dateng dateng juga.

Api Api Gunakan Atimu
(Closer look, para penghuni rumah meringkuk manis di Karimun)

Untungnya satu jam setelah api nyala beberapa mobil pemadam berhasil datang dan langsung semprat semprot. Sebelumnya sempet heboh juga soalnya bunyi krangg bumm prakkk klontangg udah meriah banget dari arah sana, menandakan api sukses melahap berbagai perkakas di rumah yang menghasilkan bunyi bervariasi. Tapi setelah disiram dengan membabibuta akhirnya rumah itu kembali tenang dan sesi pemadaman ditutup dengan hujan deras horeee. Ibu saya bilang pasti Tuhan sengaja mau nyuruh manusia berusaha sekuat tenaga dulu, baru Dia yang beresin sisanya.

Pemadam Kebakaran
(Pemadam kebakaran parkir sempurna di depan rumah saya)

Well kalo dipikir pikir bener juga sih, kalo Tuhan nurunin hujannya dari awal mungkin kami semua cuma bakal merengek rengek ‘ayoo ayoo hujan lagii biar padaam…’ tanpa ikutan bantuin mindahin barang atau memadamkan api. Tapi karena di jam pertama kering kerontang dan apinya nggak kunjung mengecil, para bapak bapak rumah tangga pun mengerahkan ember masing masing buat membantu proses pemadaman dan baru dilanjutkan oleh pemadam kebakaran beneran yang kemudian diakhiri sendiri oleh Yang Maha Kuasa.

Yeaa jadiii lumayan scary juga pagi itu buat saya. Terbangun jam 3.30 pagi, saya baru bisa kembali ke kasur sekitar jam 5.45. Dan begitu kepala saya menyentuh bantal lagi HP saya udah menjerit jerit ngebangunin saya.. sial. Satu jam kemudian saya memaksakan diri untuk melek dan menyeret badan saya ke kamar mandi untuk kembali bersiap membanting tulang. Untung jalanan Jakarta hari ini nggak terlalu macet walaupun ada beberapa titik yang masih jadi kolam susu.

Oiya keadaan rumah tetangga saya itu sekarang… ntah gimana. Tadi pagi saya lewatin rumah itu terburu buru dan di depannya udah banyak provost. Dasar kompleks tentara ya, musibah dikit langsung rame tronton dan manusia manusia berseragam. Jadi saya belum liat nih tampang sang rumah pasca panas-panasan di pagi pagi buta. Yang pasti sih nggak ada korban jiwa, dan rumahnya nggak rata dengan tanah. Masih ada beberapa yang sisa tapi ofkors semuanya hitam legam. Satu mobil APV dan satu sepeda motor bebek hangus, dan ternyata penyebab kebakaran adalah AC yang korslet! Ga usah tanya saya kenapa AC bisa korslet dan bisa bikin satu rumah menyala, dari dulu sampe sekarang Fisika saya jelek banget.

Daann… di sini lah saya.. menuliskan ini semua sambil nyedot Nescafe sebagai doping biar mata saya tetep terbuka. Nyawa saya tinggal sepertiga nih.. Sepertiga yang satu ikutan hanyut kebawa banjir kemarin, dan sepertiga yang satu lagi kayanya ikutan hangus di rumah tetangga tadi pagi. Eheheh.

Sama seperti closingnya postingan saya kemarin, stay safe people! And happy weekend🙂

Tagged:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading This House Is On Fire at Eavesdrop on Me.

meta

%d bloggers like this: