December 2011

December 24, 2011 § Leave a comment

Warning: postingan kali ini adalah luapan curahan hati saya selama berminggu-minggu di bulan Desember ini, jadi akan sangat panjaaang sekali dan mungkin membosankan. Tulisan ini saya buat untuk menghibur hati saya sendiri. Here we go…

Bulan Desember saya diawali dengan farewell di sana sini. Setelah dibikin nangis di acara kebaktian seperti di postingan saya sebelumnya, kepergian saya juga dilepas oleh teman-teman di gereja, dan akhirnya tanggal 8 Desember saya nyaris resmi meninggalkan Busan.

8 Desember 2011, pagi-pagi saya dan seorang teman pergi ke Seoul untuk ngurus ganti alamat rumah dan apply visa kerja. Ganti alamat rumah sangat mudah sekali, cuma bawa KTP dan pergi ke kelurahan. Hari itu masih indah, sampai ketika visa kerja saya ditolak di kantor imigrasi. Alasannya ga masuk akal, katanya saya kecepetan datengnya dan disuru balik lagi akhir Desember. Padahal teman saya yang lain berhasil apply beberapa hari sebelumnya. Emang orang imigrasi ga ada yang bener. Dengan sedikit kecewa, saya dan teman saya mulai luntang-lantung di Seoul karena gak tau mau ngapain lagi. Akhirnya kami memutuskan masuk sauna sekitar jam 4 sore, dan berencana keluar keesokan harinya jam 7 pagi. Sauna selalu menyenangkan, saya selalu suka berendam air panas. Tapi berbeda dari biasanya,, sauna ketika itu sangatlah menyedihkan dan saya menangis di atas karpet dan bantal yang keras itu karena tiba-tiba saya tersadar bahwa semua ga akan sama lagi.. Ketakutan akan training yang segera dimulai keesokan harinya menghantui saya, dan fakta bahwa mulai saat itu saya benar-benar akan berdiri di kaki saya sendiri bikin saya lemas.

9 Desember 2011, saya bangun dengan mata bengkak. Namun thanks to make up seadanya muka saya tetap terlihat segar dan saya pun siap berangkat meninggalkan sauna pukul 8 pagi. Dengan gagah berani saya dan teman saya keluar gedung, dan kami disambut oleh salju yang deras di pagi hari. Saya biasanya senang melihat salju, tapi berhubung di hari itu saya pake blazer, rok, stocking, dan HIGH HEELS, oh serta menyeret koper segede-gede dosa ke arah subway station, saya benar-benar mengutuk salju untuk pertama kalinya. Untunglah saya tiba di Lotte World Hotel dengan selamat, dan segera bergabung dengan ratusan peserta training lainnya.

Dan begitulah, job training alias karantina saya pun dimulai.

Karantina saya berlangsung selama dua minggu. Minggu pertama diadakan di sebuah tempat bernama Osan. Minggu kedua diadakan di sebuah resort bernama Buyeo. Peserta karantina saya ketika itu sekitar hampir 250 orang, dan ini baru kloter pertama. Total ada 4 kloter, jadi bisa dibayangkan kira-kira 1000 orang baru bergabung di group tempat saya bekerja nanti.

Kalau ditanya karantina saya seru atau tidak, saya pasti jawab seru. Menyenangkan. Banyak yang saya pelajari. Saya dapat teman-teman baru. Makanan saya lebih bergizi. Badan saya (mustinya) lebih sehat. Gigi saya lebih kinclong karena lebih sering disikat. Gak ada snack, harusnya lemak lebih berkurang. Dan gak ketinggalan, bahasa korea saya sedikit lebih diasah lagi.

Tapi itu tadi baru plus-plusnya saja. Kalau harus diurutkan kisahkisah dukanya…. waaaaaaa….. waaaaa…. bisa histeris. hehehe. Yang paling saya inget aja deh ya. Jadi tiap hari saya harus bangun paling lambat jam 5.40, karena sekamar bertiga dan kami harus ganti2an kamar mandi. Jam 6.20 sudah di lapangan bola, siap lari keliling lapangan dan senam pagi. Sekedar informasi, jam 6.20 matahari belum bersinar dan suhu dinginnya udah ngalahin dinginnya hati saya (halah). Di hari-hari pertama malah sempat salju, jadi kami berlari di atas es T__T

Sehabis olahraga biasanya lanjut lecture di hall, yang selalu menjadi ajang untuk lanjut tidur. Namun ofkors gak bisa bener-bener tidur, karena kalau ketahuan sama senior pengawas kami akan disuru berdiri di belakang ruangan. Gak boleh nyender, dan ga boleh melipat kaki (ini susah sekali buat saya, saya sangat suka melipat kaki saya >.< ). Gak boleh terlambat!! Ini penting banget, terlambat satu menit aja akan jadi bahan omelan sepanjang hari. Yang gak kalah pentingnya, jam 12 malam semua udah harus di kamar dan udah harus matikan lampu. Di hari-hari pertama kami masih ga peduli dan tetep aja jam 12 malem pasang lampu, toh ga diperiksa. Siapa sangka keesokan harinya kami habis dimarah-marahi karena senior pengawas melihat dari luar gedung, ditandai kamar kamar mana saja yang lampunya masih nyala setelah lewat jam 12 malam…

Hmm terus apa lagi ya. Setiap kali ketemu senior udah pasti, wajib, kudu membungkuk memberi hormat. Tangan ga boleh masuk ke kantong baju sama sekali, dengan alasan ga sopan pose tangannya kayak nantangin (jadi kalo kedinginan yaudalah tangannya di…. tiup tiup pake mulut aja). Kemudian kamar saya itu di lantai 4, sementara ruang kelas saya di lantai 4 juga tapi di gedung lain. Dan kami dilarang pakai lift, jadi tiap hari saya emang olahraga mati-matian.

Dan olahraga paling mematikan adalah 2 hari yang lalu, yakni tanggal 22 Desember 2011. Saya akan mengingat tanggal keramat ini sampai sepanjang masa karena banyak sekali yang terjadi di hari itu.

Untuk meramaikan hari training trakhir sebelum pelantikan, acara training kami di hari itu diisi dengan Amazing Race! atau kalo versi koreanya adalah Running Man. Cumaaa walaupun terdengarnya keren, aslinya amat sangat menyedihkan. Dari jam 10 pagi sampe jam 4 sore kami harus lari-lari dari satu pos ke pos lainnya, dan setelah dihitung ternyata kami menempuh jarak 20 km dalam seharian itu (sambil jalan sambil megang GPS, jadi ketrack berapa jarak yang ditempuh). Dan sebagai pemanasan sebelum mulai lari-lari ke pos, kami harus latihan fisik ala militer yang bener-bener bikin gue hampir nyerah. Push up, jongkok berdiri, loncat loncat, dan segala kegiatan mematikan lainnya bikin badan saya sakit duluan sebelum bahkan mulai jalan. Sedih sedih sedih.

Masih di hari yang sama, setelah acara amazing race selesai, kami dikumpulkan di hall besar dan dimarah-marahin lagi oleh senior pembimbing. Dalam keadaan cape dan stress dimarah-marahin, kami disuru menutup mata dan menunduk. Tiba-tiba lampu dimatikan dan ada suara rekaman ibu-ibu ngomong (dalam bahasa korea) “XX-ya, selamat ulang tahun.. Mama dengar training kamu berat sekali ya, tapi semangat ya… mama selalu mendoakan kamu, semoga selalu sukses”.

Rekaman itu disambung dengan rekaman ibu-ibu dan bapak-bapak lain, yang juga mengucapkan selamat ulang tahun untuk anak-anak yang kebetulan ulang tahun di hari itu. Dan saya yang lagi kecapean, kangen sama mama juga, dan pengen pulang, denger itu bener-bener meleleh… Mana hari itu adalah hari Ibu di Indonesia, dan siang itu Ibu saya beserta keluarga yang lain sedang berduka, sibuk memakamkan Tulang saya yang meninggal tanggal 20 Desember kemarin. Belum lagi tanggal 22 Desember menandakan hari bersejarah lainnya dalam hidup saya, yang sayangnya akhir-akhir ini malah bikin hati saya perih kalau ingat hal itu…

22 Desember malam, hari pun ditutup dengan “Lotte-in Night”, di mana tiap kelas menampilkan perwakilannya untuk unjuk bakat nyanyi, dance, dan lain lain. Menyenangkan.. sangat menyenangkan, untuk pertama kalinya kami tidak pakai baju training biru seragam yang buruk rupa itu, dan semua tampak senang karena akhirnya bisa bertemu lagi dengan yang namanya BEER. Tiba di kamar, badan saya yang hampir patah masih harus dipaksa bekerja ngepack barang untuk siap pulang keesokan harinya, sambil terus BBM-an dengan ayah saya demi mengupdate keadaan keluarga Loebis yang masih berkabung.

Yep highlight training saya selama dua minggu bisa dibilang adalah tanggal 22 Desember kemarin, hari di mana semua perasaan digabung jadi satu. Begitu keesokan harinya datang, kami dilantik dan dipasang badge alias lencana “L” di jas masing masing, dan siap berpisah dengan teman teman seangkatan. Terpincang-pincang saya menyeret koper saya kembali ke rumah baru saya di Seoul, lalu segera kembali ke Seoul station untuk kembali ke Busan.

24 Desember 2011 jam 2 pagi, saya tiba kembali di asrama dengan perasaan campur aduk. Asrama lantai saya sudah kosong, semua orang sudah pulang. Kamar saya masih sama, dan ada Bania yang sudah saya rindukan sekali. Pagi harinya saya lanjut packing, karena memang itulah tujuan saya kembali ke busan, yaitu untuk merampungkan barang-barang saya yang belum dikardus. Siang harinya saya dengan sukses mengirimkan total 7 kardus dari Busan ke alamat rumah baru saya di Seoul,  dan inilah saya saat ini, mengupdate kehidupan saya di bulan terakhir di tahun 2011, dengan Ajeng di pangkuan saya setelah sekian lama tak berjumpa.

Kereta saya malam ini jam 7 malam, KTX menuju Seoul (lagi). Kali ini saya pergi dan tidak kembali lagi ke Busan. Eh.. kembali sih, tapi mungkin masih dua bulan lagi. Kaki kiri saya pincang, cidera pas amazing race kemarin. Tangan, punggung, paha, betis, bahkan pant*t saya pegel setengah mati, rasanya pengen berendam di counterpain. Perasaan saya nano nano, masih gak percaya ini malam natal dan saya akan menghabiskannya di dalam kereta.

Besok? Besok hari Natal.. entah apa rencana saya. Entah ke gereja mana, entah apa yang harus saya lakukan. Ingin tidur sih, karena senin saya sudah mulai masuk kantor jadi harus simpan energi… tapi kog rasanya sedih banget tidur seharian di hari Natal. Lagipula saya belum punya kasur di rumah baru saya. :$

Seingat saya Desember tahun lalu adalah Desember terbaik dalam hidup saya.. kalau saya ingat-ingat lagi memori liburan winter saya tahun lalu, rasanya ingin berteriak protes sama Tuhan kenapa liburan kali ini berat sekali. Tapi saya ingat saya harus bersyukur.

Banyak orang ga punya kerja, jadi saya harus tetap semangat. Banyak orang gak punya ayah atau ibu, jadi saya harus tetap bersyukur punya mereka walaupun gak bisa merayakan Natal bersama. Banyak yang ga punya rumah, jadi walaupun rumah baru saya masih kosong melompong saya pun harus tetap merasa nyaman di sana. Banyak orang gak bisa jalan, jadi saya harus berhenti mengeluh walaupun kaki kiri saya sakitnyaaa luar biasa. Dan tentu saja, banyak orang gak punya teman.. jadi saya juga harus stop protes sama Tuhan kenapa saya harus pisah lagi sama teman-teman saya.. karena saya tau mereka akan tetap ada di hati saya (aww).

Hehehe anyway, saya udah harus siap siap pergi. Inilah postingan terakhir saya dari Busan! Semoga Seoul gak terlalu dingin deh, gakpapalah White Christmas, asal jangan Blue Christmas🙂

Happy holiday, Merry Christmas, Godspeed!!

 

Tagged: , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading December 2011 at Eavesdrop on Me.

meta

%d bloggers like this: