Tuhan yang baik dan Sali si beruntung

November 8, 2011 § Leave a comment

Postingan berikut ini terinspirasi dari hasil percakapan saya malam ini dengan seorang teman, tentang masa kecil saya (masa SD sih lebih tepatnya) yang setelah saya pikir pikir sangatlah… beruntung (kalau pakai bahasa manusia) alias luar biasa terberkati (kalau pakai bahasa yang sedikit lebih rohani). Iya, Tuhan sangatlah sayang sekali pada saya sehingga Dia benar-benar tidak pernah membiarkan saya mengalami kejadian kejadian buruk, sampai detik ini. Berikut adalah penjelasan mengapa saya bisa bersaksi demikian:

1. Saya gak pernah nyasar – as in bener-bener nyasar sampe ga bisa pulang ke rumah

Sedikit cerita latar belakang tentang masa SD saya, saya pernah jadi anak baru EMPAT kali ketika SD, dikarenakan pekerjaan ayah saya yang mengharuskan kami pindah pindah kota. Salah satu kota yang saya tinggali adalah kota Bandung, dan rumah saya di ujung Ciumbuleuit sana sementara sekolah saya adalah di jalan Jawa, dago ujung sananya lagi. Sekarang sih jarak rumah dan sekolah saya mungkin udah jadi super dekat, karena kalau naik mobil tinggal duduk manis merem dan pas melek nyampe. Tapi ketika saya masih kelas 3 SD dulu saya harus 2 kali naik angkot, memakan waktu 1 jam perjalanan saja (2 jam kalau bolak balik), dan tentu saya pergi pulang sendirian tanpa ibu saya menemani. Kalau emang saya lahir di desa pedalaman pulau manaa gitu mungkin masih sedikit masuk akal ya, rumah sama sekolah satu jam perjalanan lewat hutan gunung lembah gitu dan gak pake nyasar, kan anak desa patut diakui jauh lebih berani dan cerdas daripada anak kota. Tapi kalau orang kayak saya yang gampang banget nangis ini dilepas di kota yang kejam tanpa GPS dan peta (waktu itu Dora belom ada) dan gak pernah satu kali pun nyasar, apalagi namanya kalau bukan berkat Tuhan Yang Maha Kuasa? Owyeah.

2. Saya gak pernah dijambret, dipalak, diperkosa, apalagi diculik  (AMIT AMIT)

Masih berkaitan sama cerita di atas, saya teh gak pernah diantar jemput pas sekolah. Okelah pas kelas 1 SD mungkin saya dijemput seseorang (enggak tau siapa) atau pulang sama kakak saya (tapi jujur ingatan saya samar-samar sih kalau pas kelas 1). Tapi pas saya kelas 2, 3, 4, 5, 6, SMP 1, 2, 3, SMA 1, 2, 3, … tentu saja saya pulang sendiri. Rasanya pernah sih pas SMP kelas 1 kah.. atau kelas 2 gitu, kami sempet punya supir, tapi ga bertahan lama. Jadi bisa disimpulkan interaksi paling banyak yang saya lakukan di masa sekolah saya adalah dengan supir angkot dan abang bajaj! Saya gak doyan shopping dan saya gak bisa nawar baju, tapi saya paling jago nawar bajaj. Saya mungkin ga bisa ngafalin istilah biologi dan rumus-rumus fisika, tapi saya (dulu pernah) hafal nomor-nomor angkot dan bus di Bandung maupun Jakarta. Bukan hal yang membanggakan sih, tapi yaudalah.

EH iya jadi balik lagi ke ide utama point kedua ini, walaupun saya sering banget sendirian mengarungi kejamnya kota-kota besar di Indonesia, saya gak pernah sekalipun dijahatin sama orang tak dikenal. Padahal kalau dipikir-pikir astagaaa berapa besar itu resiko gue dijadiin mangsa orang orang jahat di luar sana?? Anak gadis bertampang manis berkeliaran sendirian ke sana ke mari…. ah memang ada Tuhan yang jaga sih ya😀

3. Saya gak pernah didatengin orang-orang aneh ke rumah

Kan banyak tuh di berita berita, kejahatan yang tiba-tiba ada orang gak dikenal masuk ke rumah terus nyuri lah, ngebunuh lah, bakar rumah lah (mulai berimajinasi) dan lain sebagainya. Nah mungkin untuk sebagian besar orang point saya yang ketiga ini terdengar gak terlalu penting, karena kalian juga gak pernah dapet kasus aneh-aneh di rumah sendiri, dan toh namanya juga rumah, supposed to be the safest place in earth dong ya.

Tapi berbeda dengan kasus saya saudara-saudari. Saya sering banget sendirian di rumah. Bangetnya kayak.. banget. Sendiriannya kayak… sendirian (apa sih). Hehe tapi maksudnya beneran, gak tau kenapa, keluarga saya teh suka iseng banget ninggalin saya sendirian di rumah. Dan rumah saya kan di kota besar yang jahanam itu ya, even di kota kecil pun segala sesuatu bisa terjadi, apalagi di ibukota yang tingkat kriminalitasnya luar biasa tinggi dan terbilang kreatif itu? Jadiii sekali lagi saya merasa beruntung, dan bersyukur, selama saya sendirian di rumah tanpa gembok pager segede dosa dan jampi-jampi apapun rumah dan keluarga kami selalu aman❤

4. Saya gak pernah kecelakaan lalu lintas

Saya pertama kali diajarin nyebrang sama ibu saya kelas 3 SD. Kenapa kelas 3 SD? Karena sejak itulah secara resmi pertarungan saya pulang pergi ke sekolah naik angkot dimulai (sebelum sebelumnya jalan kaki). Kenapa nyebrang aja perlu diajarin? Karena jalannya super besar. Sebesar apakah jalannya? Sebesar jalan utama, dengan kira kira 6 lajur mobil muat berjejer ke samping. Sebesar apakah saya waktu itu? Kecil banget, saya super mungil dulu pas masih SD. Emangnya ga ada zebra cross atau jembatan penyeberangan? Dude, ini Indonesia.

Nah jadi, dengan perjuangan setengah hidup berlalu lalang di tengah padatnya lalu lintas kota-kota besar, saya merasa tidak tersenggol mobil ataupun terlontar dari dalam angkot keluar merupakan sebuah prestasi tersendiri. Kalau betis kena knalpot motor itu kan bukan kecelakaan lalu lintas ya, jadi itu ga perlu diitung. Tapi untuk kasus bener-bener ditabrak mobil, atau bus, atau truk, itu puji Tuhan tidak pernah saudara-saudara! Saya ga bilang mata saya jeli jadi bisa menghindari semua kendaraan-kendaraan itu, tapi yang pasti saya merasa banget dijaga sama yang di atas. Dan perlindungan ini masih berlaku hingga hari ini. Dalam hal mengendarai mobil sendiri pun puji Tuhan tidak pernah nabrak makhluk hidup kecuali rumput. Pernahnya nabrak portal besi >.<

 

Okey saudara-saudari itulah tadi 4 hal yang saya syukuri berhasil saya lewati sepanjang hidup saya. Sekali lagi tujuannya bukan buat nyombong tapi buat mengingatkan diri sendiri betapa Tuhan sayang sekali sama saya🙂 Hehehe dan Dia juga pasti sayang sama kalian semua. Saya gak pernah kog doa secara khusus supaya dijagain pas lagi nyebrang jalan, atau supaya gak salah naik angkot pas mau ke sekolah, tapi Dia sudah tahu kebutuhan saya tanpa saya perlu bilang lagi.

Dan sebelum saya semakin panjang berceloteh gak jelas malam ini (karena saya merasa postingan ini banyak komen-komen ga jelasnya, seperti salah satunya ini yang sedang saya tulis) mari kita sudahi hari Senin yang indah ini dan bergegas menuju peraduan. Good night, world.

Tagged:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Tuhan yang baik dan Sali si beruntung at Eavesdrop on Me.

meta

%d bloggers like this: