My Precious Ears

October 9, 2011 § 1 Comment

Kalau ditanya organ tubuh apa yang paling saya suka dari diri gue sendiri, jawaban saya adalah jari. Terima kasih kepada ayah ibu yang telah menurunkan gen-gen mereka, jari-jari saya panjang dan ramping kalau kata orang, tampak cantik dilihat. Tapi ya saya juga sangat bersyukur punya jari-jari itu karena mereka membantu saya dalam berbagai hal, contohnya bermain piano dan mengetik komputer.

Sementara itu, telinga menduduki peringkat kedua dari organ tubuh yang saya sukai dari diri saya sendiri. Bentuknya sih standar, dengan lubang mungil di cupingnya untuk mengaitkan sepasang anting-anting manis, tapi saya lebih terkesan lagi sama fungsi dan kegunaannya. Selama bertahun-tahun kedua telinga saya membantu saya mendengarkan musik – berbagai jenis musik – yang mana jelas sekali telah menjadi salah satu alasan saya hidup dengan bahagia selama ini. Saya cinta musik.

Nah. Terlebih dari sekedar mendengar musik, kadang telinga saya memiliki kelebihan tertentu, yang banyak orang bilang adalah talenta, namun saya lebih suka menyebutnya anugerah dari Tuhan, yaitu keahlian mengidentifikasi nada. Permainan piano saya buruk, tapi pendengaran saya cukup tajam. Guru-guru musik saya pun selalu berkata demikian, bahwa saya lebih bisa mendengar daripada mengekspresikan nada. Saya bodoh sekali membaca not balok; makan waktu sangat lama bagi saya untuk mempelajari sebuah partitur lagu. Sebaliknya, berikan saya mp3 nya dan mungkin saya akan lebih cepat menangkap nada-nada tersebut dengan telinga saya yang berharga ini.

Namun apa yang membuat saya sedih malam ini, atau seharian ini, adalah karena hal yang paling saya takuti hampir terjadi. Telinga saya bermasalah. Sedikit sih, saya rasa, tapi tetap saja mengganggu. Dari sejak bangun pagi tadi saya merasa telinga saya pengang, dan saya pikir itu akan berlangsung sebentar saja. Tapi ternyata tidak. Seharian penuh telinga saya terus menerus mendengar suara-suara fals, seperti ada paduan suara di telinga saya. Semua suara, semua nada, semua musik, seperti ada versi suara duanya, tapi si versi suara dua ini fals T___T

Saya sedih sekali. Malam minggu ini teman saya minta tolong dicarikan chord untuk dua buah lagu yang tidak terlalu terkenal (saya coba cari di google tidak ada chordnya, jadi terpaksa saya buatkan sendiri). Biasanya saya bisa dengan mudah memproses sebuah lagu dan membuatkan daftar chordnya, namun kali ini tidak. Berulang kali saya salah nada, berulang kali saya mendengarkan suara-suara fals. Hampir menyerah, saya akhirnya meminjam gitar teman saya untuk memastikan chord-chord yang sudah saya tulis tanpa alat musik sebelumnya itu benar. Dan ternyata tidak @.@ banyak kesalahan di sana sini, dan itu membuat saya makin stress.

Saya tau ini sementara. Atau yah.. saya harap ini sementara. Mungkin saya memang terlalu stress akhir-akhir ini, dengan tidak adanya kegiatan sepanjang semester… dengan tekanan sana sini untuk cari kerja… dengan interview si company tengil di depan mata… ahahahaha aahh saya butuh segelas Milo hangat. Dan kuteks merah.

Tagged: ,

§ One Response to My Precious Ears

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading My Precious Ears at Eavesdrop on Me.

meta

%d bloggers like this: