Kakak Saya

August 2, 2011 § Leave a comment

 

Nama lengkap kakak saya Tumoutou Passah Kaunang. Tumoutou diambil dari semboyan Sam Ratulangi yang terkenal, “Sitou Timou Tumoutou” yang berarti ‘Manusia hidup utuk memanusiakan manusia lain‘, sementara nama Passah adalah plesetan dari kata Paskah, mengingat dia dilahirkan tepat pada hari Paskah pada tanggal 8 April 1985 silam.

Konon katanya kakak sayalah yang ingin punya adik perempuan. Ketika ibu saya mengandung saya, kakak saya berulang kali bilang, “Ma, pokonya mau adik perempuan!!” yang ditanya kembali oleh ibu saya, ‘yah.. kalau laki laki gimana?’ dan dibalas kembali oleh kakak saya, “Balikin lagi ke dokternya!”.

Percakapan di atas berdasarkan kisah nyata, yang membuat ibu saya memang sedikit gugup di detik-detik menjelang persalinannya, karena beliau memang sengaja tidak memeriksa kandungannya itu perempuan atau laki-laki sejak awal, takut kalau harapannya tidak sesuai nanti malah gugup berkepanjangan.

Untung saja saya lahir sebagai perempuan. Ibu saya senang, Ayah saya senang, dan kakak saya tentu sangat senang pada mulanya. Namun apa boleh buat, kesenangannya memiliki adik perempuan tidak terlalu lama berlangsung di masa kecil kami. Jarak umur 4 tahun membuat kakak saya lumayan beda jauh cara mainnya, dan kami sempat tidak terlalu akrab dahulu. Saya ingat ketika kami SD kakak saya tidak mengijinkan saya menyentuh Nintendonya, berlanjut dengan saya selalu kalah main Tekken lawan dia (ofkors dia ga pernah mau ngalah), dan ingatan saya paling jelas adalah ketika kakak saya menembak saya (literally) dengan pistol mainan yang pelurunya bulat bulat warna hijau kecil kayak permen itu tepat di bibir saya, mengakibatkan bibir saya bercucuran darah dan saya menangis sejadijadinya sementara kakak saya lapor pada ibu dan pembantu,Ah, passah ga ngapa-ngapain kog, sali jatuh makanya berdarah…”

Di masa labil ketika SMP pun saya banyak bertengkar dengan kakak saya, dan saya akui dulu saya bisa marah padanya untuk hal apapun. Kakak saya yang berantakan suka tidak mengembalikan botol minum dari kulkas, dan saya marah. Kakak saya menghabiskan stok meses di dapur, saya pun marah. Kakak saya bikin ibu marah karena pulang terlalu malam, saya ikut ikutan marah dalam hati. Kalau dipikir-pikir lagi sekarang memang kayaknya saya yang agak gak normal ya, tapi ya intinya dulu kami tidak terlalu akrab… sampai…. jarak memisahkan.

Kakak saya lanjut kuliah di Universitas Sam Ratulangi di Manado. Ketika itu saya masih SMA, dan sudah mulai sadar pentingnya punya kakak laki laki. Selain bisa menjaga saya dari serangan pria pria jahat, juga bisa dimanfaatkan sebagai supir pribadi. Namun terlambat, kami sudah keburu terpisah ribuan kilometer. Saya mendadak jadi anak tunggal, yang ternyata rasanya super ga enak banget, dan kakak saya jadi cucu kesayangan oma di sana.

Sejak inilah saya sadar saya sayang sekali dengan kakak saya, begitu pula tampaknya dengan dia. Setiap kali ada liburan, saya sangat semangat dikirim ke Manado supaya bisa bermain dengan kakak saya. Dan setibanya saya di Manado, saya selalu mendapat perlakuan khusus dari kakak saya. Seperti misalnya, mengunci saya di mobil ketika kami pergi ke kampusnya dan dia terpaksa turun untuk menemui teman-temannya sejenak, dengan alasan supaya teman-temannya (yang kebanyakan pria) tidak menggoda saya –> ketika itu saya berang karena saya tidak suka disuru menunggu di mobil seperti hewan dikandangi, tapi kalau dipikir pikir itu cukup manis juga. Kasus lainnya adalah membawa saya tamasya ke gunung, ke pantai, ke air terjun, ke danau, yang ada di Manado dan sekitarnya, berdua saja (atau kadang dengan teman-teman baiknya) yang rasanya sangaaat menyenangkan.

Bukti-bukti kemanisan kakak saya tidak berhenti di sana saja. Dia selalu berbaik hati melakukan apa saja yang saya mau, dan juga saya butuhkan:

  • memasakkan indomie (ketika lapar menerjang di tengah malam)
  • menggorengkan telur (ketika lauk kurang lezat)
  • mencuci piring (ketika pembantu tidak ada dan ibu menyuruh saya melakukannya, namun dengan cerdik saya minta kakak saya yang cucikan dan dia mau)
  • mencuci mobil (padahal yang pakai saya)
  • membekalkan saya makanan (ketika saya mau kembali ke Korea kemarin)
  • mengisikan bensin dan memastikan mobil dalam keadaan layak pakai (supaya saya aman sentosa di jalan)
  • membelikan obat (ketika saya tewas kesakitan di mobil dan dia tergopoh gopoh dari apotek dengan Feminax tiga strip – agak terlalu banyak, tandanya dia benar benar khawatir)
  • menelepon saya malam-malam menanyakan saya di mana (ketika dia tau saya tidak bawa mobil demi memastikan saya bisa pulang dengan selamat atau tidak)
  • dan yang terbaru, mengisikan lima puluh ribu pulsa simpati saya lalu kembali ke kamar saya dengan lembaran rupiah warna biru dalam keadaan utuh (yang artinya dia membayarkan pulsa saya, yeeyy!)

Masih banyak lagi bukti-bukti kemanisan kakak saya yang saya bangga-banggakan ini. Kadang saya merasa dia lebih sayang sama saya daripada sama ibu saya huhahaha oke kenarsisan tingkat tinggi tapi buktinya dia lebih takut pacarnya tidak memenuhi standar saya daripada standar ibu saya hehehehe.

Banyak teman-teman perempuan saya yang iri karena saya punya kakak laki-laki sementara mereka tidak, dan memang iya, saya juga bersyukur punya abang yang luar biasa ini. Tapi rasanya lebih banyak lagi teman-teman laki-laki saya yang iri sama kakak saya, karena segitu dicintainya sama saya hahahaha😀

Tagged: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Kakak Saya at Eavesdrop on Me.

meta

%d bloggers like this: