Cinta Monyet

June 13, 2015 § Leave a comment

14  Mei 2015

Satu hari, saya sedang mengajar Bahasa Indonesia di kelas 3. Topik kami hari itu adalah kalimat pendapat. Setelah menjelaskan definisi kata pendapat dan kegunaannya dalam percakapan sehari-hari, saya mengajak anak-anak membuat kalimat pendapat masing-masing. Untuk memudahkan mereka, saya melontarkan sebuah pertanyaan dan anak-anak tinggal menjawab dengan memulai kalimat mereka menggunakan kata-kata, “Menurut saya, ….”

Maka mulailah tanya-jawab kami siang itu.

“Amos, bagaimana pendapatmu tentang model rambut baru Isak?”

Menurut saya, rambut Isak jelek.’

(semua tertawa)

“Isak, bagaimana pendapatmu tentang cincin di jari-jari Amos?”

Menurut saya, cincin Amos juga jelek.’

(satu kelas tertawa lagi)

Flora, bagaimana pendapatmu tentang bajunya Pian?”

‘Menurut saya, baju Pian sangatlah kotor.’

(satu kelas kembali tertawa)

“Pian, bagaimana pendapatmu tentang suara Flora?”

Menurut saya, suara Flora membuat telinga sakit.’

(lagi-lagi mereka tertawa, sambil mulai menepuk-nepuk meja karena ingin membalas)

Merasa kelas terlalu ricuh dan fokusnya berbelok menjadi ajang saling mengejek, saya pun melontarkan sebuah pertanyaan terakhir dengan harapan anak-anak tertawa ceria kemudian kelas pun selesai.

“Titus, bagaimana pendapatmu tentang wajah Ruth?”

Saya tahu jawabannya, karena sudah sejak lama Titus sering digoda-godai oleh teman-teman sekelasnya. Saya juga tahu bahwa murid-murid yang lain pun pasti menganggap pertanyaan ini retorik. Kami semua tahu bahwa Ruth cantik. Namun satu hal yang saya tidak tahu, yakni bahwa murid-murid saya ternyata punya keberanian lebih daripada yang saya pikirkan. Atau setidaknya lebih daripada yang saya alami dulu :p

Karena ketika saya melontarkan pertanyaan iseng tersebut tanpa mengharapkan jawaban serius dan saya pun sudah siap dengan kalimat, “Oke mari istirahat”, tiba-tiba anak laki-laki itu berkata dengan suara lantang,

Jak moeh Bu Guru…” (tunggu sebentar Bu Guru)

(kemudian menundukkan kepala dan membenamkan wajahnya dalam tangannya sendiri)

(dan berteriak)

“MENURUT SAYA, WAJAH RUTH SANGATLAH CANTIK.”

Maka meledaklah kelas kami, disusul dengan kelas sebelah, dan kelas sebelahnya lagi. Maklum, ruang-ruang kelas di sekolah kami hanya disekat papan kayu sehingga pembicaraan di ruangan sebelah dapat terdengar jelas dari mana saja. Saya sendiri tidak bisa berhenti tertawa sambil mengagumi keberanian kedua anak tersebut. Yang perempuan tetap cool tanpa merasa tersanjung maupun terganggu, sementara yang laki-laki luar biasa percaya diri. Sambil terus meneriakkan CIEEE CIEEEE ke arah mereka berdua, anak-anak lalu meninggalkan kelas untuk istirahat.

Sementara saya kembali ke bangku saya dan tersenyum melihat mereka semua. Kelas tiga SD? Naksir-naksiran? Sepertinya hal yang wajar. Saya dulu juga pertama kali naksir anak laki-laki ketika kelas 3 SD ,walaupun rasa itu memang tidak bertahan lama karena saya mendadak ilfeel  begitu mengetahui sang kakak kelas dihukum di luar karena nilai matematikanya 3. Tapi saya masih ingat jelas masa-masa itu. Masa-masa di mana rasa suka terasa sangat tulus; masa-masa di mana kekhawatiran terbesar adalah lupa mengerjakan PR; masa-masa di mana satu-satunya tanggung jawab adalah merapikan tempat tidur; masa-masa di mana hadiah ulang tahun terindah adalah tempat pensil baru. Masa-masa di mana hidup terasa jauh lebih sederhana, masa-masa cinta monyet.

View from the Bottom

March 3, 2015 § 4 Comments

DSC08817

Bagi yang sudah mengenal gue sejak lama, pasti tau kalau gue dulu pernah sangat ingin menjadi pramugari. Sejak SD cita-cita gue pengen jadi pramugari, dan walaupun di pertengahan masa labil cita-cita gue mencong-mencong ke sana sini akhirnya selepas kuliah gue pernah beneran apply untuk jadi pramugari. Kalau ditanya kenapa gue pengen jadi pramugari, gue juga gatau jawaban yang paling tepat itu apa. Mau jawab “karena saya ingin melayani orang” kog terdengar terlalu bullshit, mau jawab “karena gajinya besar” juga terdengar kurang berkualitas. Yang pasti emang dari kecil gue selalu suka ke bandara dan selalu suka naik pesawat. Ditambah lagi bonus kalau jadi pramugari adalah bisa jalan-jalan ke banyak tempat. Pas SMA sempet sih cita-cita gue ini naik pangkat dikit yaitu pengen jadi pilot. Tapi lalu mata gue mulai mengalami kerusakan dan gue tetep berpendapat bahwa seragam pramugari lebih cantik daripada seragam pilot. Untuk ukuran anak SMA pemikiran gue ini memang agak kurang intelek. Cuma yah intinya adalah, dulu, untuk waktu yang sangaaaat lama, gue pernah bercita-cita untuk berada di atas sana.

Salah satu bukti

iseng :D

Tapi lalu semuanya berubah. Pemikiran gue berubah, keputusan yang harus diambil berbeda, waktu terus mengalir, gue tambah tua, dan tentunya Tuhan berkehendak lain. Untuk saat ini gue tengah menjalani pekerjaan yang jauh sekali berbeda dengan cita-cita gue ketika kecil dulu. Dengan kolega dan stakeholder yang 180 derajat berbeda, memakai pakaian dan fasilitas yang bagaikan langit dan bumi dengan cita-cita gue dulu, dan tentunya mendapat pemasukan yang jauh sekali iming-imingnya si cita-cita itu. Cuma satu hal yang sama sih: sama-sama bikin happy. Kalau dulu imajinasi tentang gue menjadi seperti yang gue cita-citakan itu aja udah cukup bikin happy, sekarang gue berada di tempat ini melakukan pekerjaan ini juga bikin gue happy.

Dan pastinya sekarang nggak terdengar bullshit lagi kalo gue dikasi pertanyaan kenapa lo mau melakoni pekerjaan lo sekarang dan gue jawab “karena saya ingin melayani orang”.

IMG_20140829_060534

Inilah yang sering nempel di otak gue kalau lagi milir mudik Nanga Bungan – Putussibau. Sambil gue (berusaha untuk) baring di perahu, gue nengok ke atas dan kedip-kedip sama awan-awan di langit sana. Sambil senyum gue pun ngomong dalam hati. “Gila ya, dulu gue mimpi untuk ada di atas sana. Melihat dunia dari balik awan. Dan sekarang gue ada di tempat yang paling bawah. Cuma bisa memandangi awan dengan tatapan takjub karena benda itu guedeee banget. Dan cantik. Dan pengen gue comot karena beneran mirip kembang gula.”

Apakah gue merasa sedih? Nggak sih. Cuma lucu aja. Sambil terombang-ambing di perahu, gue semakin diyakinkan bahwa Tuhan punya selera humor yang cukup tinggi. Karena Dia juga suka kebalik antara “atas” sama  “bawah”. Huhehe. Tapi yang pasti Dia emang selalu jauh melampaui akal pikiran manusia, karena ternyata, di luar ekspektasi lo, pemandangan dari bawah pun indahnya luar biasa. Dan rasanya macam-macam. Dan pengalamannya tak terbayar.

Dan video di atas, adalah cuplikan pemandangan dari bawah sini. Banyak hal yang bisa lo rasakan kalau lo berada di dalam perahu kayu selama 6 sampai 7 jam tanpa atap. Ada kalanya mataharinya bersahabat sehingga perjalanan lo menyenangkan. Ada kalanya si matahari laper, jadi rese. Panasnya nggak pake ampun. Ada kalanya mendung nyaris gerimis tapi ngga jadi hujan, jadi meskipun lo udah sigap dengan kantong plastik untuk nutupin tas lo, lo ga perlu khawatir karena ternyata ga jadi hujan dan lo ga perlu takut basah.

Nah tapiii ada kalanya juga hujan yang tidak diharapkan datang dan membawa segerombolan teman-temannya, menjadi hujan deras, lalu naik pangkat jadi badai. Nah…. di situ.. kadang… saya merasa…….. lepek.

Merasa Dikasihi

February 9, 2015 § 1 Comment

(tribute to Bapak Ikel, Mama Ikel, Bapak Pue, Mama Pue, Mama Pani, Mama Ester, Pak Kades, Bu Kades, Tia, dan semua orang Bungan)

Ketika ayah saya bertambah satu…

‘Mamak, ini barang siapa?’

“Barang Bapak nuan” (nuan = kamu)

‘Bapak saya? Oh…’

 

dan menyebabkan istilah “bapak A” atau “bapak B” berubah menjadi “bapak” saja..

‘Sali, Bapak mau milir. Ada pesan?’

“ah….”

 

dan ternyata ayah itu sangat protektif…

(kerumunan laki-laki tidak dikenal menyoraki saya yang sedang berlari-lari ke perahu)

‘Bu bu.. mau ke mana bu…’

‘Buru-buru amat bu..’

‘Hayoloh bu ditinggal…’

(lalu dihadang oleh ayah saya yang berteriak dari dalam perahu)

“Heh sudah! Itu anak saya! Ndak usah goda-godain!!”

(dan saya pun speechless)

 

karena terbukti selama ini dia selalu menjaga saya dari rumahnya…

“Sali, hari ini pesta kawinnya akan sampai malam, jadi nanti tutup pintu ya..”

‘Oh iya.. siap…’

“Kalau hari-hari biasa Bapak bisa jaga Sali dari depan rumah, tapi kalau banyak orang begini susah..”

‘Iya…’

“Apalagi kalau sudah malam, takut orang mabuk ganggu Sali”

‘Iya…’

“Dikunci aja pintu dan jendela semua, lalu kalau ada apa apa panggil Bapak ya..”

‘I..ya….’

(terharu)

 

Lalu kasih itu tidak berhenti di situ saja.

“Sali, ini bajunya sudah jadi.”

‘Waaaah cantik sekaaaaliiiiiiiii’ (mata berbinar-binar)

“Ambil aja, ini hadiah untuk Sali”

‘Eh? Ndak ndak.. ndak bisaa… aku kan pesan. Aku mau bayar….’

“Ndak apa, soalnya kami udah anggap Sali anak sendiri, jadi ambil jak…”

‘Huaaaaa…..’

 

Dia juga mengalir di rumah-rumah yang lain…

Sang istri          : Sali kami mau milir dua hari’

Sali                    : Oh iya.. hati-hati di jalan ya mama Pue”

Sang istri          : Sali sehari-hari di sini aja, jaga toko’

Sang suami      : Iya, nonton dan makan di sini aja. Tidur di sini pun tau’

Sang istri           : Kalau mau es ada di kulkas ya

Sang suami       : Ndak usah malu, Sali udah kami anggap anak sendiri

Sang istri           : Iya, jadi sekalian titip rumah ya

Sali                     : i..ya…. (terharu)

Sang istri          : Nih, makan kue dulu

Sali                     : Baiklah (lalu mengunyah)

 

Membuat saya takjub betapa luas jangkauannya dan betapa sederhana perwujudannya…

Bu Kades          : “Sali, ini dimakan buahnya”

Sali                    : ‘Iya terima kasih.. ambil di mana ini?’

Bu Kades          : “Bapak nuan yang tadi manjat”

Sali                     : ‘Ooh.. waah… terima kasiih..’ (lalu mengunyah)

Pak Kades        : “Di rumah ada lauk kah?”

Sali                     : ‘Ada.. ada.. tenaang… hehehe’

Pak Kades         : “Oh ya syukur deh. Jangan sampai ndak ada lauk. Kalau kurang minta aja sama mamak nuan, ndak usah malu-malu..”

Sali                     : ‘Iya.. ‘

 

Sesederhana mengganti panggilan hormat “Bu Guru” menjadi panggilan sayang anggota keluarga…

“Nensiiii… nensiiii” (saya memanggil balita tercantik di Bungan)

“Nenssiiiiiii…” (terus memanggil walaupun dia tidak bisa bicara)

‘Bibi… Bibi… koh ‘ (lalu sang ibu mengajarkan si bocah untuk membalas panggilan saya)

‘Bibiii… Bibi Saliii….’ (tante yang lain pun mengajarkan bocah untuk terus memanggil saya Bibi instead of Bu Guru)

“ >.< “

 

dan melontarkan pernyataan penuh keluguan namun sangat bermakna.

“Bu Guru, sampai kapan Bu Guru di sini?”

‘Jo’ sampai kalian naik kelas’

“Kalau kami naik kelas Bu Guru ndak ada lagi?”

‘Iya Bu Guru pulang’

“Yaah nanti kami kangen Bu Guru..”

‘Hehehe.. nanti kan ada yang gantikan Bu Guru..’

“Tapi saya maunya Bu Guru Sali…”

 

Surat Cinta

Closing Down The Year – Goodbye 2014

January 1, 2015 § 5 Comments

Cukup dua kata untuk mewakili 2014: SUPER CEPAATTT!!!!

Tiap tahun ketika sudah saatnya saya membuat postingan berjudul yang sama seperti di tahun 2012 dan 2013, memang sih saya selalu mengawalinya dengan kata-kata serupa yang menyiratkan bahwa satu tahun itu sebenarnya bukan waktu yang lama (kalau kita sudah sampai di penghujungnya). Tapi khusus untuk tahun 2014 ini, sungguh dari lubuk hati paling dalam, saya merasa waktu berjalan terlampau ekspres.

Terutama 6 bulan terakhir :D Mungkin ini efek-efek hidup di pedalaman yang ngga ada sinyal dan baru bisa tersambung dengan dunia luar satu bulan satu kali aja kali yah… jadi saya berasa hidup di 2 dunia berbeda yang sama-sama di fast forward..

Dan ketika akhirnya saya sampai di titik akhir di tahun 2014 ini (bahkan sebenarnya ini udah hari pertama di tahun 2015 -__- ) saya tidak bisa berhenti tersenyum mengingat kembali setahun yang lalu dan membayangkan betapa baiknya Tuhan pada saya, dan kita semua. Berikut adalah se per sekian dari banyaaaakkk sekali hal yang saya syukuri di tahun 2014..

1. Kakak laki-laki menikah, membuat keluarga kami semakin melebar dan bertambah besar :)

2. Berkesempatan bekerja di perusahaan Korea di Jakarta…

3. …. dan ternyata sangat menikmati pekerjaan tersebut

4. Jalan-jalan ke Korea lagi!!

5. Belajar banyak tentang kasih, memaafkan, dan bertahan hidup.

6. Dapet keponakan yang sangat cantik <3

Rei Molad Kaunang

Rei Molad Kaunang

7. Sehat, jasmani dan rohani. Penyakit paling parah “cuma” penyakit kulit gatal-gatal..

8. Keluarga pun sehat dan dalam keadaan baik. Begitu pula dengan kucing-kucing.

9. Masih punya tabungan, masih ada rezeki untuk jajan-jajan cantik dan bayar tagihan HP.

10. Ikut Indonesia Mengajar, yang cukup merangkum jutaan pengalaman, cita-cita, dan rasa syukur saya sepanjang hidup.

SDN 17 Nanga Bungan, Kapuas Hulu

SDN 17 Nanga Bungan, Kapuas Hulu

Khusus untuk poin ke-10 di atas, rasanya ngga berlebihan kalau saya bilang bahwa saya sedang hidup di mimpi saya sendiri. Dua tahun lalu saya pernah menulis postingan berjudul “Where you’d like to be in 10 years” dan secara impulsif saya menebalkan kalimat “hidup di pedalaman, sibuk bermain air dan bergelantungan di pohon” padahal ketika itu saya masih sedang meniti karir (tssah) di Seoul. Postingan tersebut saya lanjutkan dengan tulisan lain berjudul “What you’d like to do in 10 years” yang ternyata dengan jelas menyebutkan kerinduan random saya untuk volunteering ke pedalaman Indonesia.

(Untungnya) Nggak nyampe 10 tahun, saya beneran bisa merasakan jadi Tarzanwati. Yang mana hal ini membawa saya ke jutaan rasa syukur lainnya, seperti kesempatan mendaki gunung untuk pertama kalinya, bersahabat dengan alam, memiliki sanak saudara dan keluarga baru di sebuah tempat yang jauh dari rumah, belajar untuk mandi dan hidup dari sungai, dan pastinya tersinpirasi dari guru-guru pilihan dan puluhan anak-anak terbaik di hulu Sungai Kapuas.

Para Ibu Guru

Para Ibu Guru – Harap maklumi ekspresi muka saya ya *.*

Jadi… seiring dengan habisnya tahun 2014, saya juga ingin sekalian menandai beberapa poin tambahan yang telah berhasil dicapai di postingan 25 Before 25, seperti misalnya:

4. try an adrenaline sport : DONE! –> rafting tiap kali milir mudik dari desa ke kota kayanya cukup memicu adrenalin

19. camp under the stars : DONE! –> waktu kemping Pramuka sama anak-anak! dan juga pas pelatihan Wanadri sih tentunya…

dan juga pencapaian lainnya dari Things to do before 30, yakni…

41. ridden a motorcycle : DONE! –> hore saya sekarang bisa bawa motor! Tapi cuma di Putussibau ya… kalo suru bawa motor di Jakarta kayanya prefer jalan kaki sekalian deh…

dan bonus, ridden a 40 pk longboat : DONE!–> ga berani lewat riam, tapi lumayan lah pengalaman baru nyetir perahu..

Huhehe akhir kata, terima kasih Tuhan, terima kasih semua, terima kasih 2014. Bye-bye.

Bye 2014!

Bungan itu dulu dijajah gak sih?

December 22, 2014 § 1 Comment

Sebagai pendatang yang sampai saat ini masih terheran-heran dengan keterpencilan desa Bungan Jaya karena akses darat saja belum ada, ada satu pertanyaan yang sering nyangkut di otak saya: daerah ini dulu sempat dijajah nggak ya?

Saya sering mendengar cerita dari masyarakat sekitar tentang betapa sulitnya hidup mereka jaman dulu ketika mesin perahu, atau yang biasa mereka sebut dengan mesin tempel, belum ada. Kalau sekarang sih dengan kemajuan jaman, telah tercipta mesin tempel 40 pk yang beratnya lebih dari bobot badan saya tapi kecepatannya bisa mempersingkat waktu milir mudik dari desa ke kota dan sebaliknya. Sebelum mesin 40 pk masuk desa ini, para penduduk memakai mesin 15 pk (dan sampai sekarang pun masih dipakai). Sebelumnya lagi, 3.3 pk. Nah yang menjadi pertanyaan saya, lalu sebelumnya lagi berarti… mendayung?

Tempel 40

Menurut cerita mereka sih demikian. Untuk sekedar pulang ke desa dari kota, mereka harus mendayung perahu kecil melawan arus hingga ke hulu dan itu semua memakan waktu dua sampai satu bulan. Tergantung debit air dan kekuatan otot tangan. Biasanya mereka mendayung ketika matahari masih di atas. Kalau matahari sudah terbenam, mereka menepi dan membuat pondok-pondok.

Oh iya dengan kata “mereka” ini yang saya maksud para tetangga saya yang sudah kakek-nenek yah, bukan cerita fiktif para manusia purba di jaman manusia masih makan manusia. Jadi sebenarnya kisah mendayung yang heroik ini diangkat dari pengalaman nyata orang-orang di sekitar saya ketika tahun 70an. Kenapa saya bisa memperkirakan tahunnya? Karena konon mesin tempel itu diperkenalkan ke desa kami oleh misionaris dari Amerika yang baru datang ke daerah ini sekitar akhir tahun 70an. Jadi berarti sebelum itu mereka belum kenalan sama si mesin ajaib.

Balik lagi ke pertanyaan aneh yang suka nyangkut di otak saya: jadi kalau jaman sekarang aja mau ke desa butuh perjuangan, dan di masa yang telah lampau mau mudik harus mendayung sampai gila, lalu waktu jaman penjajahan dan perang dulu.. daerah ini ikut-ikutan dijajah nggak ya? Kalau iya, gimana caranya para penjajah itu bisa tahu bahwa ada kehidupan di hulu Sungai Kapuas dengan jumlah manusia yang sangat-sangat sedikit? Saya nggak mau bawa-bawa Google Map, karena jelas jaman itu belum ada yang namanya internet. Tapi sebenarnya bahkan hingga saat ini pun desa ini belum terlacak di Google Map. Dan membahas tentang jumlah penduduk, aduh desa ini penduduknya cuma 70 KK. Kebayang? Kira-kira tidak sampai seratus rumah yang berdiri di desa ini. Jadi kalau memang para penjajah dulu sempat datang ke sini… ngapain?? Masa iya mereka ke sini untuk nyari emas? Atau mau belajar bikin manik? Atau mencari kayu gaharu mungkin?

Well beberapa pertanyaan terakhir tadi itu belum sempat terjawab sih, karena percakapan saya dengan salah satu nenek tetangga berakhir dengan kesimpulan bahwa iya, benar, para penjajah pun dulu sempat menginjakkan kaki di daerah ini. Tapi ternyata yang dimaksud dengan “daerah ini” bukanlah desa Bungan Jaya tempat saya saat ini berada, melainkan desa Tanjung Lokang dan daerah Uncak Bungan, sebuah pemukiman penduduk yang masih jauuuuuuuhh lagi ke hulu sungai. Perhatikan penggunaan huruf “U” berlebihan yang saya gunakan pada kata jauh di kalimat sebelumnya? Itu menunjukkan bahwa pemukiman tersebut jauh lebih terpencil lagi daripada desa yang saya diami sekarang. Kalau sekarang dari kota mau mudik ke Bungan butuh waktu 6 jam dengan mesin 40 pk, maka untuk mencapai Lokang butuh waktu seharian dan biasanya mereka menginap semalam. Nah kalau ke daerah Uncak Bungan itu ya…….. tambah setengah hari lagi. Atau mungkin satu hari.

CAM00416

“Mak, mamak dulu lahir di mana?”
‘Di.. Uncak Bungan’
“Di mana itu?”
‘Di hulunya Sungai Bungan.’
“Hulu lagi dari Tanjung Lokang?”
‘Iya, dari Lokang masih huluuu lagi.’
“Astaga. Lalu kenapa pindah sini?”
‘Karena.. terlalu jauh. Jadi kami pun turun ke Bungan’
“Lalu Mak.. dulu Bungan sempat dijajah nggak?”
‘Dijajah?’
“Iya.. sama Belanda, sama Jepang..”
‘Ohhh iyaaa!’
“Hah iya?? Tentara Belanda dan Jepang sempat ke sini??”
‘Jangankan ke sini, mereka ke hulu. Mereka ke Lokang dan Uncak Bungan sana..’
“Oh tapi mereka nggak ke Bungan?”
‘Iya dulu kan Bungan masih hutan. Waktu jaman perang Desa Bungan belum ada..’
“Oooo yayaya… tapi jadi nenek masih merasakan jaman perang?”
‘Oh masih! Saya masi ingat dulu waktu Jepang datang, saya lebih besar sedikit dari Pani.. (anak murid kelas 2 SD)’
“Lalu waktu perang selesai?”
‘Waktu perang selesai, tentara Jepang lari. Ada yang lari ke hulu, ada yang ke Kaltim, ada yang tembus Malaysia.’
“Pokoknya mereka lari ya?”
‘Iya karena kalau ndak lari kami bunuh.’
“Hah…”
‘Iya. Dulu orang-orang kami di hulu itu suruh kami bunuh semua tentara Jepang yang masih sisa. Mereka bilang, kalau kami ndak berani bunuh Jepang, nanti kami yang dibunuh. Jadi mau ndak mau kami pun mau bunuh Jepang, lalu Jepang lari semua..’
“Memang Jepang jahat ya?” (pertanyaan retorik)
‘Oh iya… jahat mereka. Kita disiksa. Dulu kalau kami melawan sempat diancam mau dijatuhkan bom pakai pesawat. Makanya begitu mereka kalah ya kami serang lalu mereka lari…’

Maka pertanyaan saya pun terjawab. Tidak, Desa Bungan Jaya tidak dijajah karena ketika itu desa ini masih merupakan hutan belantara. Tapi iya, nenek moyang orang Bungan yang tinggal di Lokang dan hulunya sungai Bungan merasakan kerja paksa jaman Belanda dan Jepang. Dan iya, yang namanya penjajah di mana-mana jahat. Mau itu di kota maupun di dusun terpencil di hutan Kalimantan, kalau statusnya penjajah tetap aja ngga ada yang namanya pencitraan dan berusaha baik-baikin masyarakat. Mereka tetap meninggalkan bekas menyakitkan di memori orang-orang yang mengalaminya.

Lalu sekarang giliran pertanyaan aneh berikutnya yang juga nyangkut di otak saya: para penjajah itu dulu makan apa ya? Apakah mereka bisa berburu dan mencari ikan juga seperti orang-orang sini? Apakah mereka nggak muak melihat hutan setiap hari? Apakah mereka nggak gatal-gatal mandi di sungai?

Iya saya tahu, itu pertanyaan-pertanyaan bodoh. Tapi nyangkut. Heheh gimana dong :3

Papi Amat Amat Baik

December 9, 2014 § 2 Comments

Jadi ceritanya kepala sekolah kami namanya Pak Amat. Orangnya baik hati dan sederhana. Kami menempati rumah dinas guru yang sama. Sebagai sesama pendatang, ternyata kami (sejauh ini) cukup kompak. Pak Amat juga orangnya sangat baik. Berikut cuplikan kisah kami.

Ketika waktu telah menunjukkan pukul 1 siang, dan tumben-tumbenan kelas 3 belum pulang karena masih banyak siswa yang belum mengerti cara perkalian dan pembagian…

*gedubrak* (pintu kelas terbuka)

“Belum selesaikah?”

‘Belum Pak Amat…’

“Kenapa?”

‘Anak-anak belum selesai mengerjakan tugas…’ (sambil menunjuk 5 anak di kelas)

“Jangan terlalu lama, sudah siang. Nanti kamu lapar.”

‘Heheh iya siap bos.’

“Pulang langsung makan ya.”

‘Okee….’

dan kelaspun segera saya bubarkan

 

Ketika botol-botol minum air saya di rumah sudah kosong…

“Kumasakkan air ya”

‘Kenapa?’

“Itu air minummu kan sudah habis” (sambil menunjuk botol-botol air matang yang sudah kosong)

‘Aih…. makasih Pak Amat’

 

Ketika pada suatu hari secara serempak seluruh murid saya tidak ada yang mau mendengar kata-kata saya sehingga tekanan darah saya naik drastis dan suara saya tidak bisa biasa lagi di kelas…

“Tadi marah ya sama kelas 3?”

‘Iya.. ndak ada yang mau dengar kata-kataku. Berisik semua.’

“Hahaha… ndak usah terlalu serius.. nanti nuan yang cape..”

‘Iya huhuhu’

“Nih makan.”

 

Ketika tahu saya suka ikut orang memancing (walaupun ujung-ujungnya cuma makan kue di perahu)

“Lihat deh!” (sambil memamerkan bambu kecil tipis cantik)

‘Apa nih Pak Amat?’

“Bambu..”

‘Dari mana?’

“Dari Kakek Saung di seberang. Mau kubuat pancing.”

‘Pancing? Untuk Pak Amat?’

“Ndaak… saya lebih suka jala daripada pancing.”

‘Lalu?’

“Ini mau kubuat pancing untukmu.”

‘Yaampun Pak Amat… terima kasih…’

“Iya kasian kan kalau pergi mancing harus pinjam orang terus.”

‘….. (terharu)’

“Tapi nanti latihan pegang cacing ya. Sia-sia pergi mancing tapi ndak bisa pasang umpan.”

‘ -__-“ ‘

 

Ketika sedang kecapekan dan hendak mengurung diri di kamar tapi lalu anak-anak memanggil…

“Bu Guru…”

(tidak menjawab)

“Bu Gurruuu…”

(masih tidak menjawab)

“Bu Guurruuuuuuu…”

‘Bu Guru tidur! Dia istirahat! Sudah kalian pulang dulu sana!’

(akhirnya malah Pak Amat yang menjawab)

 

Ketika saya ngidam ingin punya pohon Natal di rumah tapi apa daya yang keangkut cuma lampunya aja…

“Pak Amat hias meh dindingnya pakai lampu ini…”

‘Lampu apa?’

“Lampu kelap-kelip ini…”

‘Buat hiasan kayak apa?’

“Buat pohon Natal..”

Aoookkk meeh…’

 

Merry Christmas 2014

Taraaaaa~~ Selamat menjelang Natal! :)

Selamat Ulang Tahun, Ibu Guru Sali

December 9, 2014 § 1 Comment

So apparently gue ulang tahun lagi…

Dan kali ini ulang tahun gue dirayakan tanpa SMS, tanpa telepon, tanpa whatsapp, dan tanpa Facebook :)

Sensasinya lucu, karena baru pertama kali ini gue merayakan sesuatu di tengah tengah orang yang baru saja gue kenal namun ternyata sangat-sangat perhatian sama gue. Plus perayaannya penuh tepung dan telur, bersama puluhan bocah-bocah berseragam SD.

Terima kasih Tuhan untuk umur baru yang Kau limpahkan, ajarilah Sali supaya selalu rendah hati dan tetap melekat di bawah kaki-Mu :)

Happy 25th, Sali.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 110 other followers