Oma yang Saya Kenal

August 15, 2015 § Leave a comment

Sudah beberapa bulan ini Oma kurang sehat. Sering kali kami dibuatnya khawatir, jantungan, hingga ketakutan. Tapi Puji Tuhan saat ini kesehatan fisiknya semakin baik dan Oma sudah kembali mampu mondar mandir di rumah tanpa ketergantungan orang lain.

Namun, seperti layaknya manusia di usia lanjut, Oma mulai sering membuat kami harus berpikir 2 kali untuk menjawab pertanyaan-pertanyaannya. Beberapa minggu lalu Oma menatap saya bingung dan bertanya saya siapa. Tidak lama kemudian, Oma bertanya kapan saya akan wisuda. Setelah itu dilanjutkan dengan pertanyaan saya sudah golongan apa (Oma pikir saya PNS).

Hari ini, Oma kembali mengejutkan saya dengan berkata beliau ingin ikut saya kembali ke Korea. Saya tertawa dan bilang, “Paspornya Oma ada?” Oma pun lantas menjawab, ‘Iyo nanti mo cari noh..’

Jujur saya takjub melihat perubahan Oma. Oma yang saya kenal sangat segar, sehat, lincah, dan tentunya cerdas. Pengetahuannya luas, dan pengalaman sekolahnya jauuh lebih lama daripada saya. Tapi sekarang Oma begitu berbeda.

Papa bilang, ini hal normal. Semua manusia akan mengalami penurunan daya ingat. Saya tahu akan hal itu, karena sudah sering dijelaskan di pelajaran Biologi dulu. Tapi saya tidak menyangka akan menyaksikan hal itu terjadi di depan mata melalui keluarga yang sangat dekat.

Saya jadi penasaran saraf di otak kalau mengelupas itu bentuknya seperti apa sih? Kog bisa mengelupas bagian luarnya saja, sehingga yang diingat hanya memori memori dari jaman dahulu kala?

Menurut saya agak luar biasa melihat Oma masih hafal mati lirik lagu kesukaannya di sekolah Jepang dulu tapi bahkan kadang tidak bisa mengingat saya siapa, sedang apa, sudah lulus sekolah atau belum. Sekali waktu saya pernah menjelaskan bahwa Oma sempat hadir di wisuda saya di Korea dulu bersama mama, dan komentar Oma adalah, “Ah masa? Kita nyanda inga..”

Nggak masalah sih bagi saya, Oma ingat atau tidak. Yang penting Oma sehat fisiknya dan hepi hatinya. Saya hanya menjadi semakin kagum bagaimana organ organ tubuh manusia bisa bekerja dan bisa rusak. Dan saya mulai sadar bahwa cerita cerita manusia hilang ingatan itu ternyata memang nyata..

Anyway, seberapa pun berbedanya Oma sekarang, buat saya (dan keluarga kami) Oma tetap sosok paling segar dan paling gaul yang pernah ada. Oma yang saya kenal itu cerdas, berpendidikan, dan berwawasan luas. Oma yang saya kenal rajin olahraga dan masih suka jogging setiap minggu. Oma yang saya kenal saking lincahnya di umur 80an masih jalanjalan ke Malaysia dan Korea. Oma yang saya kenal, waktu muda (mungkin seumuran saya sekarang) cantiknya luar biasa.

image

Tanda Tangan untuk Masa Depan

August 11, 2015 § 3 Comments

컴퓨터 정리하다가 이 사진 발견했어..

Rapor

Masih inget serunya, beberapa bulan lalu, hitung-hitung nilai anak-anak, kumpulin jejak-jejak catatan perkembangan mereka yang kadang nyelip di tas atau ketinggalan di notes HP, lalu masukin semuanya ke Excel, kemudian dicari apakah berdasarkan angka mereka layak naik kelas atau tidak. Setelah itu baru dipertimbangkan kembali satu per satu, mana yang pantas naik kelas karena sudah benar-benar tuntas belajarnya, mana yang pas-pasan, mana yang perlu diberi catatan kecil di dalam buku rapornya, mana yang harus dipanggil dulu orang tuanya. Prosesnya makan waktu, dan harus muter otak. Padahal murid di kelas saya waktu itu hanya 7 orang. Nggak kebayang kalau murid saya puluhan, pasti butuh effort lebih lagi untuk mengenal anak satu per satu.

Ketika akhirnya tiba di tahap penandatanganan rapor, saya ingat saya tersenyum sendiri. Ini kedua kalinya saya membubuhkan tanda tangan di buku rapor mereka karena semester sebelumnya juga sudah pernah saya lakukan. Itu artinya saya sudah mengajar dua semester! Itu artinya tugas saya sebagai wali kelas selesai sudah. Itu artinya saya harus pulang :”(

Emang rada-rada mellow waktu itu. Semua yang saya lakukan di detik-detik terakhir menjelang kepulangan rasanya berat sekali. Tetangga pun gitu. Lihat saya bawa baju pinjeman ke rumah orang, komentarnya pasti, “Bu Guru udah mau berkemas aja?? Cepat sekali???

Atau kalau saya berlagak selfie padahal mau bercermin doang di HP memastikan muka gatel itu karena digigit agas atau ada jerawat tumbuh, pasti komentar orang, “Mentang-mentang mau pulang Jakarta nih, Bu Guru foto-foto teruuus…

Paling parah waktu itu murid-murid saya yang perempuan. Di hari Sabtu terakhir kami olahraga bersama (which was actually 1 MONTH before my departure… still 1 month left….) saya memutarkan lagu “Terima Kasih Guruku” sebagai iringan musik sebelum kami mulai senam bersama. Lagunya sebenernya bagus, dan nadanya nggak sedih. Sama sekali gak sedih. Tapi tiba-tiba dari pojokan saya mendengar segerombolan anak perempuan tersedu-sedu dengan muka belepotan air mata. Salah satu dari mereka berkata, “Bu Guru, kami sedih Bu Guru udah mau pulang…

Kelas 3

Sali and the 7 dwarfs

Yaah anyway, inti dari cerita saya adalah, sudah hampir 2 bulan berlalu dan anak-anak saya masih suka kebawa mimpi >.< Pengalaman tiba-tiba punya anak banyak memang menjadi sesuatu cerita yang unik dalam hidup saya, tapi semoga pengalaman punya guru seperti saya juga menjadi kisah tidak terlupakan juga bagi mereka ya. Biar vice versa gitu (hahah maksa). Setidaknya saya yakin mereka akan tetap ingat saya kalau lagi mau daftar sekolah sih ;p Atau iseng-iseng buka rapor SD.

Sebenarnya selama ini sebagai orang yang pernah beberapa kali ikut organisasi dan menjadi karyawan perusahaan, saya sudah sering membubuhkan tanda tangan di mana-mana. Cukup penting sih ya waktu itu. Nanda tangan izin tertentu, nanda tangan kontrak kerja, atau nanda tanganin buku harian temen jaman SD.

Tapi rasanya tanda tangan yang saya tinggalkan di 7 buku rapor murid-murid saya ini yang paling berkesan deh. Berkesan buat saya, setidaknya. Karena saya merasa bertanggung jawab atas masa depan anak-anak ini. Dan berkesan juga, karena mungkin itu terakhir kalinya saya akan menuliskan tanda tangan dan nama saya di buku rapor, sebagai wali kelas!

xoxo,

Mantan Bu Guru

ps: Tulisan ini dipersembahkan untuk Flora, Rut, Reva, Pian, Amos, Titus, dan Isak. Laskar Bungan? Siaap, siaaap!

Tutup Satu Chapter

August 7, 2015 § Leave a comment

Butuh waktu 6 minggu sampai akhirnya saya menuliskan detik-detik terakhir saya meninggalkan Nanga Bungan!! Alasan heroiknya sih karena nggak sanggup, terlalu menyedihkan. Tapi alasan lebih jujurnya adalah karena ngga sempet hehehe sepulang kembali ke kehidupan nyata malah sibuk jalan-jalan lagi dan reunian sana sini.

Anyway ini beberapa penggalan kisah tanggal 21 dan 22 Juni 2015 yang lalu.

Ceritanya, malam terakhir saya meninggalkan desa Nanga Bungan, kami hepihepi di gedung sekolah. Saya sudah bilang sama semua anak dan semua orang tua murid, bahwa “pesta” terakhir saya harus dinikmati dan nggak boleh ada yang nangis!! Alhasil hari itu, Minggu tanggal 21 Juni 2015, semua orang ceria dan . Pagi harinya saya masih sempat bergereja untuk terakhir kalinya di desa, lalu siang para ibu-ibu sudah sibuk memasak nasi dan berbagai lauk-pauk. Anak-anak juga sudah mendapat titah merapikan bangku dan meja sekolah supaya ruangan itu muat untuk dipakai joget :D Teman-teman pemuda hari itu ngga ngapa-ngapain lagi, karena sehari sebelumnya mereka sudah ramai-ramai ke hulu sungai mencari ikan untuk saya hahaha.. Rasanya lucu melihat semua orang gotong royong demi melepas kepergian ibu guru Sali. Saya berasa mau nikah, soalnya biasanya satu desa heboh kayak gini kalau ada acara nikahan adat aja :p

Prosesi ngebungkusin nasi pakai daun untuk acara perpisahan bu guru kece. Sambil ngegosip sambil lipet lipet. #byeBungan

A photo posted by Sangalian Jato (Sali) (@cutesalmon) on

Anyway ketika hari Minggu itu sudah semakin sore, seluruh warga desa mandi bersih dan siap menempati ruangan sekolah untuk “pesta” dengan Ibu Guru Sali. Acaranya sederhana, seingat saya cuma ada beberapa kata sambutan, penyerahan hadiah, lalu makan malam. Oh saya sempat didoakan juga oleh Pak Komite, dan tertawa ketika beliau mendoakan saya dapat jodoh baik hati dan seiman. Saya ingat teman saya menginjak kaki saya gara-gara saya beneran tertawa padahal lagi berdoa.

Lalu tentunya ada juga kata sambutan dari Bu Yanti, kepala sekolah sekaligus kakak kesayangan saya. Dia, tentu saja, menangis sambil memberi kata sambutan. Dia bilang dia pasti akan kehilangan saya karena mulai sekarang harus tidur sendiri lagi setelah setahun penuh satu kelambu dengan saya. Setelah Bu Yanti sambutan, gantian saya yang memberi kata sambutan, dan puji Tuhan saya sukses memberi kata-kata terakhir tanpa air mata! Nyaris sih, tapi yaaa segera diakhiri begitu mata berkaca-kaca.

Selepas makan malam, kami masuk ke puncak acara yaitu JOGET!! Heheheh. Seumur-umur nggak pernah suka lagu dangdut, tapi hidup 1 tahun di desa benerbener mengubah semuanya! Beberapa orang tua murid sempat menyumbangkan lagu buat saya, termasuk teman-teman pemuda dan tentunya anak-anak. Puncak acara ini lumayan heboh, karena semua orang bergerak. Tidak ada air mata yang mengalir, yang ada malah air keringat >.<

Ngga mau pulang, maunya digoyang. Kalimat ini diucapkan dari lubuk hati terdalam 💕 Ngga… mau… pulang…. #byeBungan #Punan

A video posted by Sangalian Jato (Sali) (@cutesalmon) on

Sampai akhirnya hari keramat itu pun datang. 22 Juni 2015. Hari terakhir saya menginjakkan kaki di Nanga Bungan. Pagi itu saya sibuk beres-beres untuk terakhir kalinya, lalu pamit sama keluarga-keluarga terdekat saya di sana. Mendadak jadi artis juga, karena semua orang pengen foto terakhir :( Dan ketika waktu menunjukkan sekitar pukul 11 siang, akhirnya saya harus turun ke perahu dan menyusuri sungai Kapuas untuk terakhir kalinya….. Ngga usah ditanya muka saya bentuknya begimana, seinget saya di perahu pun saya masih sesenggukan. Haha.

Hingga detik ini, saya berasa sebagian hati saya ketinggalan di desa itu. Kalau kata keluarga besar Indonesia Mengajar sih, untuk mempercepat proses move on sebaiknya bersihkan komputer dari foto dan video masa lalu, juga kurangi bicara tentang desa dan daerah penempatan sama siapapun. Hahaha tapi itu susah banget dilakukaaan… ini tiap hari aja saya masih suka SMSan sama murid-murid yang kebetulan lagi ada di Putussibau.

Buhuuuuu…. suatu saat nanti saya akan kembali ke desa itu. Mungkin tunggu ada sinyal dulu :p Ada yang mau ikut? Boleh daftar dari sekarang, biar kita bisa patungan uang bensin sama sama. Hahah. Anyway ini video terakhir yang dibuatkan oleh officer Indonesia Mengajar untuk merangkum jejak kami selama satu tahun. Ngeliatnya kadang bikin seneng, kadang bikin terharu, tapi paling sering sih bikin kangen desa.

Yess satu tahun mengajar seumur hidup susah move on!!

ps: ga cuma meninggalkan desa, tapi pas meninggalkan Putussibau untuk beranjak ke Pontianak pun saya belepotan kayak balon air pecah saking sedihnya. Hahaha pokonya mau pulang ke Jakarta rasanya berat banget. Damn I love Kapuas Hulu!!

Cinta Monyet

June 13, 2015 § Leave a comment

14  Mei 2015

Satu hari, saya sedang mengajar Bahasa Indonesia di kelas 3. Topik kami hari itu adalah kalimat pendapat. Setelah menjelaskan definisi kata pendapat dan kegunaannya dalam percakapan sehari-hari, saya mengajak anak-anak membuat kalimat pendapat masing-masing. Untuk memudahkan mereka, saya melontarkan sebuah pertanyaan dan anak-anak tinggal menjawab dengan memulai kalimat mereka menggunakan kata-kata, “Menurut saya, ….”

Maka mulailah tanya-jawab kami siang itu.

“Amos, bagaimana pendapatmu tentang model rambut baru Isak?”

Menurut saya, rambut Isak jelek.’

(semua tertawa)

“Isak, bagaimana pendapatmu tentang cincin di jari-jari Amos?”

Menurut saya, cincin Amos juga jelek.’

(satu kelas tertawa lagi)

Flora, bagaimana pendapatmu tentang bajunya Pian?”

‘Menurut saya, baju Pian sangatlah kotor.’

(satu kelas kembali tertawa)

“Pian, bagaimana pendapatmu tentang suara Flora?”

Menurut saya, suara Flora membuat telinga sakit.’

(lagi-lagi mereka tertawa, sambil mulai menepuk-nepuk meja karena ingin membalas)

Merasa kelas terlalu ricuh dan fokusnya berbelok menjadi ajang saling mengejek, saya pun melontarkan sebuah pertanyaan terakhir dengan harapan anak-anak tertawa ceria kemudian kelas pun selesai.

“Titus, bagaimana pendapatmu tentang wajah Ruth?”

Saya tahu jawabannya, karena sudah sejak lama Titus sering digoda-godai oleh teman-teman sekelasnya. Saya juga tahu bahwa murid-murid yang lain pun pasti menganggap pertanyaan ini retorik. Kami semua tahu bahwa Ruth cantik. Namun satu hal yang saya tidak tahu, yakni bahwa murid-murid saya ternyata punya keberanian lebih daripada yang saya pikirkan. Atau setidaknya lebih daripada yang saya alami dulu :p

Karena ketika saya melontarkan pertanyaan iseng tersebut tanpa mengharapkan jawaban serius dan saya pun sudah siap dengan kalimat, “Oke mari istirahat”, tiba-tiba anak laki-laki itu berkata dengan suara lantang,

Jak moeh Bu Guru…” (tunggu sebentar Bu Guru)

(kemudian menundukkan kepala dan membenamkan wajahnya dalam tangannya sendiri)

(dan berteriak)

“MENURUT SAYA, WAJAH RUTH SANGATLAH CANTIK.”

Maka meledaklah kelas kami, disusul dengan kelas sebelah, dan kelas sebelahnya lagi. Maklum, ruang-ruang kelas di sekolah kami hanya disekat papan kayu sehingga pembicaraan di ruangan sebelah dapat terdengar jelas dari mana saja. Saya sendiri tidak bisa berhenti tertawa sambil mengagumi keberanian kedua anak tersebut. Yang perempuan tetap cool tanpa merasa tersanjung maupun terganggu, sementara yang laki-laki luar biasa percaya diri. Sambil terus meneriakkan CIEEE CIEEEE ke arah mereka berdua, anak-anak lalu meninggalkan kelas untuk istirahat.

Sementara saya kembali ke bangku saya dan tersenyum melihat mereka semua. Kelas tiga SD? Naksir-naksiran? Sepertinya hal yang wajar. Saya dulu juga pertama kali naksir anak laki-laki ketika kelas 3 SD ,walaupun rasa itu memang tidak bertahan lama karena saya mendadak ilfeel  begitu mengetahui sang kakak kelas dihukum di luar karena nilai matematikanya 3. Tapi saya masih ingat jelas masa-masa itu. Masa-masa di mana rasa suka terasa sangat tulus; masa-masa di mana kekhawatiran terbesar adalah lupa mengerjakan PR; masa-masa di mana satu-satunya tanggung jawab adalah merapikan tempat tidur; masa-masa di mana hadiah ulang tahun terindah adalah tempat pensil baru. Masa-masa di mana hidup terasa jauh lebih sederhana, masa-masa cinta monyet.

View from the Bottom

March 3, 2015 § 5 Comments

DSC08817

Bagi yang sudah mengenal gue sejak lama, pasti tau kalau gue dulu pernah sangat ingin menjadi pramugari. Sejak SD cita-cita gue pengen jadi pramugari, dan walaupun di pertengahan masa labil cita-cita gue mencong-mencong ke sana sini akhirnya selepas kuliah gue pernah beneran apply untuk jadi pramugari. Kalau ditanya kenapa gue pengen jadi pramugari, gue juga gatau jawaban yang paling tepat itu apa. Mau jawab “karena saya ingin melayani orang” kog terdengar terlalu bullshit, mau jawab “karena gajinya besar” juga terdengar kurang berkualitas. Yang pasti emang dari kecil gue selalu suka ke bandara dan selalu suka naik pesawat. Ditambah lagi bonus kalau jadi pramugari adalah bisa jalan-jalan ke banyak tempat. Pas SMA sempet sih cita-cita gue ini naik pangkat dikit yaitu pengen jadi pilot. Tapi lalu mata gue mulai mengalami kerusakan dan gue tetep berpendapat bahwa seragam pramugari lebih cantik daripada seragam pilot. Untuk ukuran anak SMA pemikiran gue ini memang agak kurang intelek. Cuma yah intinya adalah, dulu, untuk waktu yang sangaaaat lama, gue pernah bercita-cita untuk berada di atas sana.

Salah satu bukti

iseng :D

Tapi lalu semuanya berubah. Pemikiran gue berubah, keputusan yang harus diambil berbeda, waktu terus mengalir, gue tambah tua, dan tentunya Tuhan berkehendak lain. Untuk saat ini gue tengah menjalani pekerjaan yang jauh sekali berbeda dengan cita-cita gue ketika kecil dulu. Dengan kolega dan stakeholder yang 180 derajat berbeda, memakai pakaian dan fasilitas yang bagaikan langit dan bumi dengan cita-cita gue dulu, dan tentunya mendapat pemasukan yang jauh sekali iming-imingnya si cita-cita itu. Cuma satu hal yang sama sih: sama-sama bikin happy. Kalau dulu imajinasi tentang gue menjadi seperti yang gue cita-citakan itu aja udah cukup bikin happy, sekarang gue berada di tempat ini melakukan pekerjaan ini juga bikin gue happy.

Dan pastinya sekarang nggak terdengar bullshit lagi kalo gue dikasi pertanyaan kenapa lo mau melakoni pekerjaan lo sekarang dan gue jawab “karena saya ingin melayani orang”.

IMG_20140829_060534

Inilah yang sering nempel di otak gue kalau lagi milir mudik Nanga Bungan – Putussibau. Sambil gue (berusaha untuk) baring di perahu, gue nengok ke atas dan kedip-kedip sama awan-awan di langit sana. Sambil senyum gue pun ngomong dalam hati. “Gila ya, dulu gue mimpi untuk ada di atas sana. Melihat dunia dari balik awan. Dan sekarang gue ada di tempat yang paling bawah. Cuma bisa memandangi awan dengan tatapan takjub karena benda itu guedeee banget. Dan cantik. Dan pengen gue comot karena beneran mirip kembang gula.”

Apakah gue merasa sedih? Nggak sih. Cuma lucu aja. Sambil terombang-ambing di perahu, gue semakin diyakinkan bahwa Tuhan punya selera humor yang cukup tinggi. Karena Dia juga suka kebalik antara “atas” sama  “bawah”. Huhehe. Tapi yang pasti Dia emang selalu jauh melampaui akal pikiran manusia, karena ternyata, di luar ekspektasi lo, pemandangan dari bawah pun indahnya luar biasa. Dan rasanya macam-macam. Dan pengalamannya tak terbayar.

Dan video di atas, adalah cuplikan pemandangan dari bawah sini. Banyak hal yang bisa lo rasakan kalau lo berada di dalam perahu kayu selama 6 sampai 7 jam tanpa atap. Ada kalanya mataharinya bersahabat sehingga perjalanan lo menyenangkan. Ada kalanya si matahari laper, jadi rese. Panasnya nggak pake ampun. Ada kalanya mendung nyaris gerimis tapi ngga jadi hujan, jadi meskipun lo udah sigap dengan kantong plastik untuk nutupin tas lo, lo ga perlu khawatir karena ternyata ga jadi hujan dan lo ga perlu takut basah.

Nah tapiii ada kalanya juga hujan yang tidak diharapkan datang dan membawa segerombolan teman-temannya, menjadi hujan deras, lalu naik pangkat jadi badai. Nah…. di situ.. kadang… saya merasa…….. lepek.

Merasa Dikasihi

February 9, 2015 § 1 Comment

(tribute to Bapak Ikel, Mama Ikel, Bapak Pue, Mama Pue, Mama Pani, Mama Ester, Pak Kades, Bu Kades, Tia, dan semua orang Bungan)

Ketika ayah saya bertambah satu…

‘Mamak, ini barang siapa?’

“Barang Bapak nuan” (nuan = kamu)

‘Bapak saya? Oh…’

 

dan menyebabkan istilah “bapak A” atau “bapak B” berubah menjadi “bapak” saja..

‘Sali, Bapak mau milir. Ada pesan?’

“ah….”

 

dan ternyata ayah itu sangat protektif…

(kerumunan laki-laki tidak dikenal menyoraki saya yang sedang berlari-lari ke perahu)

‘Bu bu.. mau ke mana bu…’

‘Buru-buru amat bu..’

‘Hayoloh bu ditinggal…’

(lalu dihadang oleh ayah saya yang berteriak dari dalam perahu)

“Heh sudah! Itu anak saya! Ndak usah goda-godain!!”

(dan saya pun speechless)

 

karena terbukti selama ini dia selalu menjaga saya dari rumahnya…

“Sali, hari ini pesta kawinnya akan sampai malam, jadi nanti tutup pintu ya..”

‘Oh iya.. siap…’

“Kalau hari-hari biasa Bapak bisa jaga Sali dari depan rumah, tapi kalau banyak orang begini susah..”

‘Iya…’

“Apalagi kalau sudah malam, takut orang mabuk ganggu Sali”

‘Iya…’

“Dikunci aja pintu dan jendela semua, lalu kalau ada apa apa panggil Bapak ya..”

‘I..ya….’

(terharu)

 

Lalu kasih itu tidak berhenti di situ saja.

“Sali, ini bajunya sudah jadi.”

‘Waaaah cantik sekaaaaliiiiiiiii’ (mata berbinar-binar)

“Ambil aja, ini hadiah untuk Sali”

‘Eh? Ndak ndak.. ndak bisaa… aku kan pesan. Aku mau bayar….’

“Ndak apa, soalnya kami udah anggap Sali anak sendiri, jadi ambil jak…”

‘Huaaaaa…..’

 

Dia juga mengalir di rumah-rumah yang lain…

Sang istri          : Sali kami mau milir dua hari’

Sali                    : Oh iya.. hati-hati di jalan ya mama Pue”

Sang istri          : Sali sehari-hari di sini aja, jaga toko’

Sang suami      : Iya, nonton dan makan di sini aja. Tidur di sini pun tau’

Sang istri           : Kalau mau es ada di kulkas ya

Sang suami       : Ndak usah malu, Sali udah kami anggap anak sendiri

Sang istri           : Iya, jadi sekalian titip rumah ya

Sali                     : i..ya…. (terharu)

Sang istri          : Nih, makan kue dulu

Sali                     : Baiklah (lalu mengunyah)

 

Membuat saya takjub betapa luas jangkauannya dan betapa sederhana perwujudannya…

Bu Kades          : “Sali, ini dimakan buahnya”

Sali                    : ‘Iya terima kasih.. ambil di mana ini?’

Bu Kades          : “Bapak nuan yang tadi manjat”

Sali                     : ‘Ooh.. waah… terima kasiih..’ (lalu mengunyah)

Pak Kades        : “Di rumah ada lauk kah?”

Sali                     : ‘Ada.. ada.. tenaang… hehehe’

Pak Kades         : “Oh ya syukur deh. Jangan sampai ndak ada lauk. Kalau kurang minta aja sama mamak nuan, ndak usah malu-malu..”

Sali                     : ‘Iya.. ‘

 

Sesederhana mengganti panggilan hormat “Bu Guru” menjadi panggilan sayang anggota keluarga…

“Nensiiii… nensiiii” (saya memanggil balita tercantik di Bungan)

“Nenssiiiiiii…” (terus memanggil walaupun dia tidak bisa bicara)

‘Bibi… Bibi… koh ‘ (lalu sang ibu mengajarkan si bocah untuk membalas panggilan saya)

‘Bibiii… Bibi Saliii….’ (tante yang lain pun mengajarkan bocah untuk terus memanggil saya Bibi instead of Bu Guru)

“ >.< “

 

dan melontarkan pernyataan penuh keluguan namun sangat bermakna.

“Bu Guru, sampai kapan Bu Guru di sini?”

‘Jo’ sampai kalian naik kelas’

“Kalau kami naik kelas Bu Guru ndak ada lagi?”

‘Iya Bu Guru pulang’

“Yaah nanti kami kangen Bu Guru..”

‘Hehehe.. nanti kan ada yang gantikan Bu Guru..’

“Tapi saya maunya Bu Guru Sali…”

 

Surat Cinta

Closing Down The Year – Goodbye 2014

January 1, 2015 § 6 Comments

Cukup dua kata untuk mewakili 2014: SUPER CEPAATTT!!!!

Tiap tahun ketika sudah saatnya saya membuat postingan berjudul yang sama seperti di tahun 2012 dan 2013, memang sih saya selalu mengawalinya dengan kata-kata serupa yang menyiratkan bahwa satu tahun itu sebenarnya bukan waktu yang lama (kalau kita sudah sampai di penghujungnya). Tapi khusus untuk tahun 2014 ini, sungguh dari lubuk hati paling dalam, saya merasa waktu berjalan terlampau ekspres.

Terutama 6 bulan terakhir :D Mungkin ini efek-efek hidup di pedalaman yang ngga ada sinyal dan baru bisa tersambung dengan dunia luar satu bulan satu kali aja kali yah… jadi saya berasa hidup di 2 dunia berbeda yang sama-sama di fast forward..

Dan ketika akhirnya saya sampai di titik akhir di tahun 2014 ini (bahkan sebenarnya ini udah hari pertama di tahun 2015 -__- ) saya tidak bisa berhenti tersenyum mengingat kembali setahun yang lalu dan membayangkan betapa baiknya Tuhan pada saya, dan kita semua. Berikut adalah se per sekian dari banyaaaakkk sekali hal yang saya syukuri di tahun 2014..

1. Kakak laki-laki menikah, membuat keluarga kami semakin melebar dan bertambah besar :)

2. Berkesempatan bekerja di perusahaan Korea di Jakarta…

3. …. dan ternyata sangat menikmati pekerjaan tersebut

4. Jalan-jalan ke Korea lagi!!

5. Belajar banyak tentang kasih, memaafkan, dan bertahan hidup.

6. Dapet keponakan yang sangat cantik <3

Rei Molad Kaunang

Rei Molad Kaunang

7. Sehat, jasmani dan rohani. Penyakit paling parah “cuma” penyakit kulit gatal-gatal..

8. Keluarga pun sehat dan dalam keadaan baik. Begitu pula dengan kucing-kucing.

9. Masih punya tabungan, masih ada rezeki untuk jajan-jajan cantik dan bayar tagihan HP.

10. Ikut Indonesia Mengajar, yang cukup merangkum jutaan pengalaman, cita-cita, dan rasa syukur saya sepanjang hidup.

SDN 17 Nanga Bungan, Kapuas Hulu

SDN 17 Nanga Bungan, Kapuas Hulu

Khusus untuk poin ke-10 di atas, rasanya ngga berlebihan kalau saya bilang bahwa saya sedang hidup di mimpi saya sendiri. Dua tahun lalu saya pernah menulis postingan berjudul “Where you’d like to be in 10 years” dan secara impulsif saya menebalkan kalimat “hidup di pedalaman, sibuk bermain air dan bergelantungan di pohon” padahal ketika itu saya masih sedang meniti karir (tssah) di Seoul. Postingan tersebut saya lanjutkan dengan tulisan lain berjudul “What you’d like to do in 10 years” yang ternyata dengan jelas menyebutkan kerinduan random saya untuk volunteering ke pedalaman Indonesia.

(Untungnya) Nggak nyampe 10 tahun, saya beneran bisa merasakan jadi Tarzanwati. Yang mana hal ini membawa saya ke jutaan rasa syukur lainnya, seperti kesempatan mendaki gunung untuk pertama kalinya, bersahabat dengan alam, memiliki sanak saudara dan keluarga baru di sebuah tempat yang jauh dari rumah, belajar untuk mandi dan hidup dari sungai, dan pastinya tersinpirasi dari guru-guru pilihan dan puluhan anak-anak terbaik di hulu Sungai Kapuas.

Para Ibu Guru

Para Ibu Guru – Harap maklumi ekspresi muka saya ya *.*

Jadi… seiring dengan habisnya tahun 2014, saya juga ingin sekalian menandai beberapa poin tambahan yang telah berhasil dicapai di postingan 25 Before 25, seperti misalnya:

4. try an adrenaline sport : DONE! –> rafting tiap kali milir mudik dari desa ke kota kayanya cukup memicu adrenalin

19. camp under the stars : DONE! –> waktu kemping Pramuka sama anak-anak! dan juga pas pelatihan Wanadri sih tentunya…

dan juga pencapaian lainnya dari Things to do before 30, yakni…

41. ridden a motorcycle : DONE! –> hore saya sekarang bisa bawa motor! Tapi cuma di Putussibau ya… kalo suru bawa motor di Jakarta kayanya prefer jalan kaki sekalian deh…

dan bonus, ridden a 40 pk longboat : DONE!–> ga berani lewat riam, tapi lumayan lah pengalaman baru nyetir perahu..

Huhehe akhir kata, terima kasih Tuhan, terima kasih semua, terima kasih 2014. Bye-bye.

Bye 2014!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 110 other followers