[Sahabat Pena-an Yuk!] Guru Nulis Berdiri, Murid Nulis Berlari

October 29, 2014 § Leave a comment

Sebenarnya judul di atas rada-rada ga nyambung sama isi postingan blog ini sih.. Ini ceritanya saya cuma mau bilang bahwa saya, Sangalian Jato, yang umurnya udah hampir seperempat abad dan (tadinya) hidup di lingkungan serba instan dengan akses internet di mana-mana ini masih juga hobi nulis buku harian dan surat-suratan.

Oleh karena itu ketika saya secara ajaib bisa jadi Pengajar Muda dan ditempatkan di sebuah sekolah dasar di hulu sungai Kapuas, hal pertama yang saya ajarkan kepada murid-murid saya adalah menulis!

PR IPA

PR IPA

Huhehe mimpi saya sih pengen membiasakan mereka menulis jurnal (atau istilah konvensionalnya “buku harian”) seperti yang dilakukan oleh guru jadi-jadiannya ini :p Tapi karena murid-murid saya masih kelas 3 dan susunan kalimatnya masih agak kurang jelas, jadi saya masih sampai di tahap memperbaiki tulisan mereka kalimat per kalimat.

Surat untuk Pak Guru

Surat untuk Pak Guru

Di atas adalah contoh tulisan salah seorang murid saya di hari pertama saya mengajar. Ketika itu secara bebas saya biarkan murid-murid saya menulis surat selamat Idul Fitri untuk para Pengajar Muda sebelum saya. Hasilnya beragam, ada yang tulisannya rapi, ada yang warna-warni, dan ada yang tata bahasanya masih perlu dipoles. Namun  itu justru menjadi pijakan awal saya untuk mengajar, karena saya bisa mengetahui di mana start point mereka.

Puji Tuhan sekarang mereka sudah mulai bisa menulis lebih rapi dan membedakan penggunaan huruf kapital dan huruf kecil. “Proyek” menulis mereka yang terakhir adalah membalas surat dari anak-anak di  SD GMIT Oeulu, Rote Ndao, sebuah sekolah yang menjadi penempatan rekan sesama Pengajar Muda.

Berikut adalah cuplikan keceriaan murid-murid kelas 3 SDN 17 Nanga Bungan menerima surat dari Rote :) Videonya memang berakhir kocak karena keadaan kelas mendadak tidak tenang, tapi terlihat betapa antusiasnya murid-murid saya berkenalan dengan orang luar dan membalas surat dari sahabat-sahabat pena mereka yang baru.

Mau ikutan menambah keceriaan kelas kami dan berkenalan dengan anak-anak luar biasa dari hulu sungai terpanjang di Indonesia? Kasi tau saya ya :)

Bungan Story, teruntuk kamu Bu Guru!

October 6, 2014 § Leave a comment

Tulisan ini adalah milik Rifki Furqan, yang diambil dari sini.

Isinya terlalu manis dan mengharukan, jadi saya post kembali di sini :)

Begitulah judul dari sebuah video kreasi saudara sepenugasanku. Ternyata, aku pun bisa rindu. Ya, serindu itu!

Sudah sejak weekend lalu aku teringat-ingat bagaimana Hulu. Apa kabarnya ya saudara sebangsaku di desa paling Hulu itu? Tak terasa sudah lebih dari dua bulan aku meninggalkan kampung halamanku itu. Dulu, ketika tiba di Jakarta dan bertemu dengan mereka-mereka, teman seangkatan, aku memasang janji diam-diam dalam hati untuk baru akan mengenang kisah hidup penuh makna ini paling tidak tiga bulan lagi. Dan ternyata kesombongan diri ini terus diuji hingga aku tak tahan lagi untuk mengaku sudah memasuki tahap sangat rindu ini.

Ini tentang korelasi antara memori dan masa transisi yang berjalan terbuka antara kita berdua. Kita saudara wahai Bu Guru, sejak awal dulu smsmu masuk dan terbaca ketika aku masih di perahu setelah empat jam turun dari hulu. Aku tak terlalu perduli awalnya siapa pun yang akan menggantikanku. Dan ternyata ketika kita berdiskusi cukup lama ketika aku bersinyal di kota, aku yakin kamu, yang sudah luar biasa, akan semakin jauh legawa, dewasa dan tentu lebih luar biasa dikemudian harinya.

Aku bersaksi bahwa kamu punya kapasitas untuk menyelesaikan tugas dengan gilang gemilang jauh dari tiga laki-laki sebelumnya. Kamu adalah pemberi beda. Tidak pernah ada sebelumnya Bu Guru yang dikirim ke desa paling hulu, dan itulah mengapa aku menyebut sejak mula bahwa kamu beruntung dan semoga terus berbahagia.

Ingat ini Bu Guru, ketika nanti di desa kamu sempat merasa putus asa, artinya alam sedang bekerja untuk membuatmu lebih luar biasa. Ketika kamu bingung karena tidak ada kata-kata yang dapat ditukar lewat pulsa, artinya pengalaman itu akan kamu kenang sebagai masa yang paling menguatkan perasaan diri juga logika. Ketika nanti apapun masalah dengan sekolah atau warga yang datang tanpa kamu bisa diskusikan bersama, simpan dan cerna baik-baik lewat tulisan atau apapun ragam kenangan lainnya.

Maka nanti, ketika kamu selesai dan meninggalkan Ketemenggungan Dayak Punan Hoovongan, mungkin rasa rindu seperti inilah yang akan terus menguatkan. Tak hanya menguatkan dengan ragam pengalaman mental, fisik dan spiritual tinggal di tengah hutan, tapi juga menguatkan rencana bintang gemintang kamu di masa depan.

Bu Guru, terima kasih bijaksana atas video kreasinya yang sukses membuat Pak Guru paling arogan di Bungan ini mengaku rindu. Jika nanti pertengahan kamu bertugas kamu pulang untuk sementara, kita harus bertemu karena aku akan menjamu tamu dari Hulu sambil kita akan tertawa-tawa membahas Bungan Jaya.

Semoga sehat selalu di Hulu ya Bu Guru! Aku tau bagaimana susahnya ternyata mengelola rindu pada seorang sahabat/saudara yang daerah penugasannya hanya bisa diakses lewat surat yang dibungkus kantong plastik dan dititipkan sebisanya. Jadi, tetaplah semangat jika naik ke Hulu dan turunlah ketika hati dan mimpimu berkata seperti itu. Kami akan selalu berdo’a agar Bu Guru dalam lindungan Tuhan yang Maha Kuasa selama bertugas disana, mengajar dan belajar di desa yang punya SD paling akhir di aliran Kapuas Hulu.

Depok, 09.09.14. 23.11 WIB. *setelah berulang-ulang kali mengenang Nanga Bungan

Pak Guru sok mantap!!Pak Guru sok mantap!!

Makasih banyak ya Pak Guru, saya memang lagi membutuhkan ini…

Pelajaran IPA

September 9, 2014 § 8 Comments

Kamis, 21 Agustus 2014

“Coba berikan 10 contoh makanan yang manusia makan!”

‘Ikan, ayam, bebek, sapi, babi, anjing, kijang, beruang, …’

“…………..”

(tadi soalnya tentang jenis makanan apa hewan-hewan di kebun binatang ya?)

 

“Anak-anak, masih tentang makanan, coba sebutkan beberapa jenis hewan beserta makanannya masing-masing!”

‘Ikan Bu!’

“Ikan makan apaaa?”

‘Makan nasi!’

“Eh? Ikan makan nasi?”

‘Iya, biasa di rumah kalau ada nasi sisa lalu kami buang di sungai, nanti dimakan ikan.’

“Baiklah -___- berikutnya hewan apa lagi?”

‘Anjing bu!’

“Anjing makan apa?”

‘Makan nasi Bu.’

“Karena…. nasi sisa kalian juga kalian kasi ke anjing…?”

‘Iyaaa..’

“Baiklah -___- lalu hewan apa lagi?”

‘Beruang Bu!’

“Beruang makan apa?”

‘Makan manusiaaaa!’

(eng ing engg…)

“Lho katanya tadi manusia makan beruang. Kog sekarang jadi beruang makan manusia?”

‘Iya Bu tergantung siapa mati duluan.’

“……….”

 

“Yasudah sekarang Ibu Guru mau tanya. Karena dari tadi kalian sebut beruang terus, coba siapa yang pernah liat beruang?”

‘Sayaaaa!’ (beberapa anak mengangkat tangan)

“Isak pernah lihat beruang?”

‘Iya Bu’

“Beruang hidup?”

‘Iya Bu’

“Di mana?”

‘Di Aso Bu’ (nama dusun sebelah)

“Kog bisa?”

‘Waktu itu saya sama Reno lagi ke Aso, lalu lihat beruang di sana’

“Beruangnya lagi apa?”

‘Lagi berenang bu’

“Beruangnya berenang? Kamu yakin bukan ikan?”

‘Iya bu. Beruangnya besar warna hitam lagi di air.’

“……”

 

“Amos juga pernah lihat beruang?”

‘Pernah Bu!’

“Di TV?”

‘Ndak! Lihat yang betulan’

“Kog bisa? Lihat di mana?”

‘Lihat di rumah Bu, dibawa papa saya tiga ekor dari hutan’

“Sudah mati???”

‘Iya sudah mati Bu’

“Lalu kalian apakan beruangnya??”

‘Bulunya untuk dipakai menari Bu.’

“Lalu dagingnya??”

‘Dimakaaaan!’ (anak-anak menjawab serempak)

“Enak?”

‘Enak!’

“Seperti apa rasanya?”

‘Seperti babi.’

“Enak mana sama babi?”

‘Masih enak babi bu.’

“Oke. Ngomong-ngomong Ibu Guru ndak makan beruang ya. Juga kura-kura. Jadi kalau kalian dapat mereka tolong jangan kasi Bu Guru.”

‘Kalau pelanduk Bu?’

“Pelanduk juga ndak makan…….”

(dalam hati.. ini anak-anak isi perutnya apa aja sih T_T )

Surat untuk Hujan

July 30, 2014 § 4 Comments

Jumat, 18 Juli 2014 – Nanga Bungan, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat

Dear hujan,

Terima kasih sudah membasahi sekujur desa kami. Kemarau yang panas mendadak terasa sejuk dengan kedatanganmu.

Dear hujan,

Terima kasih sudah mengisi bak penampung air di belakang rumah saya. Kini persediaan air untuk cuci piring dan kamar mandi saya lebih dari cukup hingga waktunya milir kembali ke kota. Saya pun bisa cuci kaki dengan leluasa dan tidak ragu-ragu mem-flush toilet saya dengan air yang banyak.

Dear hujan,

Terima kasih sudah memuntahkan banyak sekali air di desa kami. Malam ini listrik kami tidak redup seperti beberapa hari sebelumnya, dan menurut perkiraan rekan guru saya ini pasti karena debit air di bendungan cukup untuk memutar turbin di pembangkit listrik kami. Semoga dengan begini laptop saya tidak pernah meledak karena tegangan yang naik turun.

Dear hujan,

Terima kasih telah memberikan sensasi baru dalam sejarah kehidupan permandian saya. Baru pertama kali ini saya mandi sore di sungai terpanjang di Indonesia sambil diguyur hujan deras sehingga saya serasa mandi di bawah pancuran supeeeerr besar. Angin dan kabut yang dibawa serta oleh dirimu juga menambah sensasi mistis ketika mandi. Ingin rasanya mandi sambil bawa kamera untuk mengabadikan momen berharga tadi, tapi untung akal sehat saya masih bekerja jadi saya urungkan niat tersebut. Nanti kalau saya sudah punya plastik anti air untuk kamera dan kebetulan sungai lagi kosong, turun lagi ya! ^.~

Dear hujan,

Terima kasih telah memperingatkan saya akan bahaya baru yang bisa saya temui di tempat ini, yakni…….  pacet. Jujur ya hujan, saya takut pacet. Mau dia pacet kecil, pacet sedang, pacet besar, semuanya saya takut. Dan berkat dirimu yang datang dalam jumlah besar hari ini, segala jenis pacet pun bermunculan dan salah satunya dengan asyik nangkring di kobokan tempat sunlight dan sabut cuci piring saya berada tadi. Dan kamu mau tahu sesuatu, hujan? Saya paling hobi cuci piring. Jadi bisa bayangkan apa yang terjadi ketika dengan riang gembira saya memenuhi ember cuci saya dengan air yang melimpah, mengambil sabut, memasukkan segenap tangan saya sepenuh hati ke dalam air bersunlight, dan mengobok-ngobok mangkok tersebut siap mengusap-usap piring beling di tangan kiri, lalu tiba-tiba ada pacet gendut menggeliat di jari manis  tangan kanan saya?

Sensasinya luar biasa mengerikan, hujan. Luar biasa mengerikan. Saya menjerit dan serentak meletakkan piring dari tangan kiri saya. Untung lantai rumah saya dari kayu, hujan. Jadi piringnya tidak pecah. Dan lebih beruntung lagi karena tangan kanan saya berlumuran sunlight, jadi pacet jahat itu langsung lepas dan lanjut menggeliat-geliat di piring kotor lainnya. Ya ampun hujan….. tragis….. 나 미치겠어 정말 ㅠ.ㅠ

Tapi hujan,

Seburuk-buruknya dirimu, setega-teganya dirimu telah membuat pacet bermunculan, saya tetap berterima kasih telah disambut dengan cara yang manis di tempat ini. Sepanjang hidup saya pernah menetap di beberapa tempat yang berbeda, namun saya tidak pernah ingat hujan pertama yang turun ketika saya tinggal di Bandung dulu, ataupun hujan pertama ketika kami pindah kembali ke Jakarta, atau hujan pertama di Cileungsi, dan bahkan hujan pertama saya di Korea.

Namun rasanya hujan pertama saya di Nanga Bungan ini akan saya kenang selalu. Sensasi girangnya melihat bak penuh, sensasi mandi di bawah pancuran raksasa dengan suasana Silent Hill, sensasi paniknya mengobok-ngobok mangkuk berpacet…. semuanya super!

Langit di Hulu Kapuas ini memang selalu menyimpan banyak keistimewaan ya, hujan? Kemarin malam lautan bintang memayungi desa kami dengan sangat terang, dan malam ini giliran dirimu yang akan menemani tidur kami sepanjang malam.

Jangan terlalu heboh ya turunnya, hujan. Please turun secukupnya saja supaya saya juga tidak menggigil kedinginan. Dan besok sekolah kami ada jadwal olahraga, jadi kalau bisa besok gantian sama matahari ya eksis di langitnya :D Supaya kami bisa senam riang anak Indonesia tanpa berbecek-becek ria. Hehehe.

Selamat tidur, hujan.

“Baru saja berakhir, hujan di sore ini..”

Ooh ternyataaa….

July 23, 2014 § 4 Comments

Rabu, 16 Juli 2014 – Nanga Bungan, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat

View from the Top

  1. Hari pertama sekolah itu ga cuma bikin gugup muridnya, tapi juga gurunya :3
  2. Jika murid-murid tampak kebosanan atau sibuk sendiri di kelas, itu bukan sepenuhnya salah mereka. Bisa jadi emang gurunya ga bisa me-manage kelas…. (sigh)
  3. Harus masuk sekolah jam 7.15 dan baru mandi jam 7 itu bukan ide baik. Agak malu juga begitu keluar rumah pake kain dan bawa ember mandi terus ketemu murid-murid yang udah pake seragam rapi nggak sabar mau mulai sekolah…
  4. Anak-anak pedalaman juga hafal marsnya Jokowi. Dan juga Prabowo. Dan mereka tahu istilah Pemilu Legislatif!! Terharu…
  5. Bahasa Korea sama bahasa Bungan beda-beda tipis. Banyak eo eo nya… ehuhehehe.
  6. Buku itu benar-benar jendela dunia. Setelah bertahun-tahun hidup dengan kemewahan internet lalu tiba-tiba kemewahan tersebut direnggut, saya sangat bersyukur ada banyak buku bacaan di rumah dan sekolah untuk bahan belajar dan mengajar. Terima kasih ya wahai penulis, penerbit, donatur, dan para pengantar buku-buku tersebut. Saya berhutang budi *salim*
  7. Tokek tuh bentuknya begitu!! Omg cicak versi gede….
  8. Sejernih-jernihnya air sungai di hulu tetep aja lebih jernih air hujan. Dan gue ga pernah sadar betapa pentingnya air hujan dalam hidup gue sampe sekarang :3 Kayanya balik ke Jakarta nanti gue bakal dikit-dikit bawaannya sigap ngeluarin ember penampung air deh kalau hujan turun..
  9. Pelajaran Fisika soal listrik dan teman-temannya itu sangat.. sangat… penting!! Terutama kalau lo berniat tinggal di rumah sendiri. Dan rumah lo ngga dialiri PLN jadi ngga bisa kapan saja protes ke PLN terus mas-masnya dateng.
  10. Begitu pula dengan pelajaran Tata Boga.
  11. Dan juga pelajaran olahraga, terutama bagian permainan volley. Ini khusus kalau lo mau hidup di Hulu Kapuas seperti gue sih, or else lo bakal jadi lawakan satu desa berusaha ngejar-ngejar bola dengan gaya yang nggak masuk akal di tengah lapangan sore-sore.
  12. Berenang juga penting! Dan yang gue maksud di sini bukan berenang cantik di kolam, melainkan berenang melawan arus. Ini sangat-sangat krusial kalau lo mau bonding secara cepat dengan anak-anak pedalaman Hulu Kapuas ketika main hanyut (=main arung jeram tapi tanpa perahu, alias orangnya aja gitu hanyut di antara jeram berbatu dan berarus).
  13. Bakar sampah itu ada triknya. Bakar yang mudah terbakar dulu, dan dari bawah. Sia-sia lo berusaha bakar tumpukan paling atas; udah girang liat apinya besar menari-nari terus lo baru sadar yang kebakar bagian atasnya doang!! (aigooh…)
  14. Duduk sambil nungguin sampah lo terbakar juga ada triknya. Jangan pernah duduk melawan arah angin berembus. Kasian paru-paru dan mata lo. Nyeseknya beda tipis sama pas kelaperan masak nasi tapi nggak mateng sempurna.
  15. Hidup tanpa sinyal tuh gini toh rasanya…… (lalu hening)

Terima kasih untuk hari pertama yang spesial, Bungan.

Tidak sabar untuk bertemu dengan ribuan ternyata-ternyata lainnya :)

 

Apa yang akan selalu sama?

June 10, 2014 § 2 Comments

Cikoneng, 8 Juni 2014

“Apa yang akan selalu sama, di masa dua bulan pelatihan, satu tahun penempatan, dan bertahun-tahun ke depan?” – Hikmat Handono

Lulus!

sahabat?

cinta?

Tuhan?

harapan?

pilihan?

masalah?

tantangan?

Saya menjawab IYA untuk semua poin-poin di atas.

Tapi saya berteriak paling keras ketika poin ini disebut:

RASA CINTA PADA INDONESIA

Indonesia :)

Empat tahun kuliah plus bonus hampir dua tahun kerja jauh dari tanah air membuat saya kadang bertanya-tanya, apa ya yang terjadi pada bangsa saya?

Di saat orang-orang muda lainnya sibuk berorganisasi dan aktif berpolitik ketika kuliah di dalam negeri, saya malah pura-pura nggak tahu sama keadaan kampung sendiri. 

Di saat saya hepi-hepi volunteering di Korea dan hura-hura ke sana kemari, kog saya malah menjadi relawan untuk bangsa orang lain ya? 

Apakabar bangsa saya sendiri?

Kog mendadak jadi merasa berhutang budi ya?

Dan begitulah terus kurang lebih pertanyaan-pertanyaan yang berputar di kepala saya. Sok idealis memang :p tapi jujur pertanyaan-pertanyaan inilah yang akhirnya membawa saya ke keputusan untuk mengikuti program Indonesia Mengajar.

Dan setelah 2 bulan pelatihan intensif alias karantina layaknya kontestan dangdut, akhirnya hari minggu yang lalu saya beserta 74 teman lainnya resmi dilantik sebagai Pengajar Muda Angkatan 8 :)

Rasa bangga menyelimuti saya, tapi rasa takut juga gak kalah menanti di balik itu hehehe.

Yang pasti sih rasa haru biru sudah sangat tidak terbendung ketika pada pelantikan kemarin kami harus maju satu persatu mencium bendera Merah Putih dengan penuh hormat sambil bernyanyi..

Dari yakin ku teguh

hati ikhlasku penuh

akan karuniaMu

Tanah Air Pusaka

Indonesia Merdeka

Syukur aku sembahkan

ke hadirat-Mu, Tuhan

Selidiki Aku

May 14, 2014 § Leave a comment

Lihat hatiku

Apakah ku, sungguh mengasihimu Yesus?

Kau yang maha tahu

dan menilai hidupku

Tak ada yang tersembunyi bagiMu..

Tlah kuliat kebaikanMu

yang tak pernah habis di hidupku

Ku berjuang

SAMPAI AKHIRNYA

Kau dapati aku tetap setia

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 105 other followers